Djalan Sihombing: Melanchton Siregar Almarhum Ikut Memperjuangkan Palestina dan Sikap PGI Tentang Status Yerusalem

JAKARTA, DNT News – Sebagai akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump tentang Yerusalem ibukota Israel, membuat dunia heboh. Presiden RI Joko Widodo juga ikut bicara dan menyatakan sikap pemerintah tentang Yerusalem tersebut. Tidak ketinggalan, PGI ikut menyatakan sikap.

Hal ini dikatakan Djalan Sihombing, Ketua Komisi Hukum PIKI dan Sekjen DPP FBBI, kepada dalihannatolunews.com, Jumat 08 Desember 2017 pagi, di Jakarta. “Tidak bisa dipungkiri bahwa, Yerusalem merupakan bagian dari sejarah agama Yahudi, Kristen, dan Islam (agama Samawi). Kita tidak tahu sampai kapan permasalahan Israel Palestina berakhir. Hanya Tuhan Pencipta semesta yang tahu pasti. Manusia hanya berusaha agar permasalahan itu selesai dengan jalan damai,” katanya.

Diungkapkannya, dalam buku Melanchton Siregar “Mempertahankan NKRI” yang disusun Aco Manafe, Sabam Sirait, mencatat bahwa Melanchton Siregar tiga kali mengadakan diskusi mengenai kemerdekaan Palestina di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Sikapnya, ikut memperjuangkan negara Palestina.

Menurutnya, perlu membedakan Israel sebagai negara, Yahudi sebagai orang, dan Yahudi sebagai agama, serta tak kalah pentingnya tentang Luciferist. “Orang Yahudi sendiri ada yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam. Di negara Israel tentu ada 3 agama tersebut. Yang menjadi masalah dunia saat ini adalah aliran Lusiferist. Aliran ini, bisa saja orang Yahudi dan bukan Yahudi. Lucifer ada dimana-mana mau menghancurkan peradaban dunia,” katanya.

Bila dari sisi sejarah, khusus untuk Kristen, peninggalan sejarah Kristen lebih banyak di Palestina daripada di Israel. Dan Palestina ikut menjaga peninggalan tersebut dengan baik. Walikota Betlehem selalu beragama Kristen sampai saat ini. “Tapi saya sebagai pribadi dan sebagai Kristen tidak boleh mengutuk Yahudi. Yesus sendiri sebagai manusia adalah Yahudi. Rasul Paulus juga orang Yahudi,” terangnya.

Majalah Bulanan DALIHAN NA TOLU edisi 127/Desember 2017

Djalan Sihombing menyampaikan, Yang Mulia Fariz N Mehdawi ketika masih Duta Besar Palestina di Indonesia, selalu bicara bahwa antara Israel dan Palestina bukan masalah agama, tapi masalah politik (negara) dan tanah. Jangan ada yang menganggap itu masalah agama. Yang Mulia, juga mengutip pandangan sejumlah tokoh perjuangan nasional Palestina, pemeluk agama Kristen, seperti Philip Habib, George Habash, Hawatmeh, dan tokoh wanita Hanan Ashrawi, yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak bangsa Palestina.

Ketika Yang Mulia di Palestina, sudah terbiasa ikut perayaan hari besar Kristen, Katolik, Kristen Ortodok, Islam, dan Yahudi. “Itu pengakuan beliau, ketika kami (Enderson Tambunan, Bachtiar Sitanggang, Cs) beberapa kali diskusi di Kedutaan Palestina dan ketika kami (Drs Supardan MA, Aco Manafe alm, ibu Titi Juliasih, Iriani, Ronald M Sihombing, Sahat M Doloksaribu, Abadi P Hutagalung, dan Antoni Pardosi) mendampingi Yang Mulia dan wakilnya Taher Hamad selama 5 hari di Sumatera Utara 05-09 September 2012,” urainya.

Menurutnya, PGI sudah tepat dengan pernyataan sikapnya terkait status Yerusalem tertanggal 07 Desember 2017. “Sikap PGI yang menghimbau pemerintah RI, agar memperhatikan skema jalan damai dimana Israel dan Palestina diletakkan sebagai dua negara yang sejajar. Biarlah kasih dan damai di Timur Tengah,” ujarnya.

(Keterangan gambar ki-ka: Aco Manafe, Iriani, Taher Hamad, Fariz N Mehdawi, Titi Juliasih, Djalan Sihombing). (DNT)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel