DR. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si: Merevitalisasi Peradaban Bangso Batak Melalui Percepatan Pembentukan Provinsi Danautoba

JAKARTA, DNT News – Secara psikologis, rancangan program kerja awal Komite Provinsi Danautoba (KPD) menjadi efektif dan diharapkan memiliki efek domino bila KPD dan berbagai elemen pendukung mampu mendaratkannya dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) secara sistematis, terstruktur, dan masif dengan tema “Merevitalisasi Peradaban Bangso Batak Melalui Percepatan Pembentukan Provinsi Danautoba-Prodato”.

Hal ini dikemukakan Managing Director Institute of People Development (IPD), DR Antonius Dieben Robinson Manurung MSi, pada rapat menindaklanjuti progress rencana pembentukan Provinsi Danautoba, Jumat 26 April 2019, di Gedung Nusantara III lantai 8, DPD-RI, Jln Gatot Subroto No 6, Senayan, Jakarta.

Dikatakannya, peradaban manusia (termasuk Bangso Batak) tidak terlepas dari budaya dan pendidikan. Hal ini senafas dengan salah satu dari pemikiran Trisakti Bung Karno bahwa dalam membangun peradaban sebuah bangsa, “Kita” harus “Berkepribadian di Bidang Kebudayaan”.

Menurut Doktor Psikologi bidang Psikologi Industri dan Organisasi ini, kepribadian Bangso Batak terwujud dalam falsafah budaya Dalihan Na Tolu yang sangat terkenal itu, dan bahkan hingga saat ini dijadikan sebagai model kepemimpinan tradisional Bangso Batak.

Dr Antonius DR Manurung MSi (tengah) memberikan masukan dari segi psikologi pembentukan Provinsi Danautoba

Selain budaya sebagai dimensi penting dalam revitalisasi peradaban lewat percepatan pembentukan Prodato, dimensi pendidikan, terutama terkait dengan pembangunan karakter (character building) masyarakat Batak secara keseluruhan harus terus ditingkatkan. Pembangunan karakter sebagai manifestasi revolusi mental tentunya menjadi prasyarat utama terbentuknya Prodato.

“Mentalitas berkeadaban dari semua pihak (stakeholder) sangat diperlukan untuk mengembangkan keberlanjutan studi kelayakan yang telah berlangsung selama ini,” ujar Dr Anton, dosen Fakultas Psikologi dan MM UMB ini.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah adanya strong political will dari pemerintah (dalam hal ini Presiden RI Ir H Joko Widodo) untuk mendukung penuh proses percepatan pembentukan Prodato yang sudah lama diidam-idamkan oleh masyarakat Batak.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 144/Mei 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 144/Mei 2019

DR Antonius Dieben Robinson Manurung MSi yang juga Ketua Yayasan Angela Indonesia ini menyampaikan kristalisasi pemikiran terkait menggunakan nama Provinsi Danautoba.

Pertama, secara historis term Danau Toba (ingat proses terbentuknya Danau Toba) jauh lebih tua dibandingkan dengan Tapanuli. Kedua, secara filosofis term Danau Toba memiliki nilai yang lebih luas, bukan hanya di seantero nusantara tapi secara mondial sudah cukup dikenal. Ketiga, secara geografis akan lebih mudah dalam tata kelola karena akan terintegrasi dengan BODT (Badan Otorita Danau Toba).

Selanjutnya Keempat, secara etis lebih tepat menggunakan term Danau Toba untuk memperkecil timbulnya ‘pergesekan’ bahkan konflik terhadap term Tapanuli, terlebih bila Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan tidak ikut serta dalam Prodato. Kelima, secara psikologi lintas budaya dan spiritual, relatif akan lebih mudah menyatu dalam pola pikir dan pola kerja.

“Semoga kita semua semakin berpikir optimis dan lebih fokus membahas hal-hal substantif demi percepatan pembentukan Provinsi Danautoba, sebagai salah satu bentuk dan manifestasi Indonesia Maju. Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah Prodato!!!” pungkasnya. (DN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel