Dr. Ir. Bisuk Siahaan: BATAK SATU ABAD PERJALANAN ANAK BANGSA

JAKARTA, DNT News – Mengetahui dan mengenang suku Batak selama satu abad perjalanan anak bangsa, sungguh membanggakan dan dapat menggugah para generasi muda untuk mengetahui jati dirinya sebagai bagian keturunan suku Batak yang menjunjung tinggi adat budayanya.

Hal inilah yang diungkapkan Dr Ir Bisuk Siahaan dalam buku yang ditulisnya berjudul “BATAK SATU ABAD PERJALANAN ANAK BANGSA”. Buku ini diterbitkan PT Glory Offset Press dengan kertas lux 468 halaman, ukuran 24 x 30 cm, berisi 376 foto berwarna, serta 576 foto hitam putih.

Buku ini melukiskan perjalanan suku Batak selama satu abad yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19 sampai ke-20, yaitu periode sebelum suku Batak bersentuhan dengan dunia luar sampai dengan periode Indonesia merdeka.

Pada abad ke-19, ketika peneliti barat mengunjungi pulau Sumatera, menganggap daerah dihuni suku Batak sebagai “terra incognito” (daerah tidak dikenal) karena sangat tertinggal. Penduduknya masih menyembah berhala dan percaya kepada ramalan dukun (datu), serta menganggap bencana maupun kebahagiaan adalah atas persetujuan roh leluhur. Mereka menyembah Debata Mula Jadi Nabolon pencipta langit dan bumi.


Setelah misionaris dari Jerman datang dan menetap di Tanah Batak pada pertengahan abad ke-19, mereka membuka sekolah dan rumah sakit, dan sejak itu pandangan masyarakat mulai berubah. Tidak lagi mengantarkan sesajen kepada roh leluhur, tidak lagi menyembah sombaon, tetapi hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Satu abad kemudian, dari suku Batak yang jumlah penduduknya relatif kecil, telah lahir banyak cendikiawan, komponis, seniman, menteri, mahaguru, dan para duta besar.

Buku ini terdiri dari 6 (enam) bagian yakni kehidupan suku Batak periode sebelum bersentuhan dengan peradaban barat, kunjungan peneliti barat pada abad ke-17 dan 18, kedatangan Misionaris dari Eropa, pemerintahan Hindia Belanda, pemerintahan Jepang, serta keadaan setelah Indonesia merdeka. Periode tersebut berlangsung sekitar satu abad, oleh karena itulah diberi judul “BATAK SATU ABAD PERJALANAN ANAK BANGSA”.

Majalah Bulanan DALIHAN NA TOLU edisi 128/Januari 2018

Dr Ir Bisuk Siahaan menampilkan foto dalam buku ini dengan mengunjungi beberapa museum dan perpustakaan di luar negeri yakni “Koninklijk Instituut voor Toal-Landen Volkenkunde (KITLV)” di Leiden, “Tropen Instituut” di Amsterdam, “Rijksarchief” di Den Haag, dan “Vereinte Evangelische Mission di Wuppertal-Barmen (VEM)” di Jerman.

Untuk menambah khasanah buku ini juga diisi dengan foto berikut dokumen tentang suku Batak dari Arsip Nasional RI dan Perpustakaan Nasional di Jakarta, Museum Sumatera Utara di Medan, perusahaan “Seni Jurnal”, serta mencari dengan memasuki desa terpencil di Kabupaten Samosir, Karo, Simalungun, dan Dairi.

Satu kekaguman dari memiliki buku karya Dr Ir Bisuk Siahaan kelahiran Balige dan lulusan ITB jurusan Teknik Kimia yang telah menghembuskan nafas terakhir dalam usia 83 tahun, Jumat 29 September 2017 lalu, adalah menjadikannya “Buku Pusaka” pribadi untuk diperkenalkan kepada generasi muda secara terus menerus, sehingga memiliki kebanggaan sebagai bagian dari keturunan suku Batak. (Hutanta)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel