Dr. Ir. Bisuk Siahaan: BATAK WARISAN LELUHUR YANG TERANCAM PUNAH

JAKARTA, DNT News – Bila berkunjung di masa lalu sebelum abad 19 ke perkampungan suku Batak di Tapanuli Utara, di depan pintu gerbang akan disambut beberapa patung yang berdiri tegak, mata melotot dengan pandangan mencurigakan, gigi dan taring yang dipamerkan ingin tahu maksud dan tujuan kunjungan tamu.

Hal ini diungkapkan Dr Ir Bisuk Siahaan dalam bukunya berjudul “BATAK WARISAN LELUHUR YANG TERANCAM PUNAH”. Buku ini diterbitkan Kempala Foundation dengan kertas lux 392 halaman berukuran 24 x 30 cm.

Hampir semua rumah atau bangunan di kampung dihiasi dengan patung dan ukiran dinding dengan berbagai makna dan tujuan. Ada patung yang tugasnya menjaga rumah, ada ukiran menyerupai cecak disebut Boraspati ni Tano yang tugasnya mengawasi rumah, dinding sebelah depan diukir delapan buah adop-adop (payudara wanita) dari kayu yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Pada dinding bagian depan sebelah kiri dan kanan terdapat dua patung menyerupai kepala binatang buas dijuluki Singa-singa. Penampilannya sangat misterius dengan kepala lonjong besarnya dua kali lebar wajahnya, sangat ganas dengan mata berwarna hitam bulat melotot, kumis melintang menutupi wajah sampai di bawah dagu, lidah terjulur jauh ke depan, telinga menyerupai kulit kacang tanah terbuka lebar, di atas kepala menjulang dua tanduk panjang, serta diberi warna hitam, putih, dan merah.


Namun dengan berkembangnya agama Kristen di Tapanuli Utara, Reinische Missions Gesellschaft (RMG) sebuah Misi Zending Jerman semakin keras dan mengharuskan anggota jemaat memusnahkan patung atau benda mistik yang biasanya dipakai sebagai medium perantara memanggil roh.

Acara mangase taon, mangahonahoni, porang Sideang-Parujar melawan Naga Padoha (na mate digalagala), pangurason, dan lainnya tidak diperkenankan lagi. Dianjurkan supaya benda-benda tahyul itu dibakar atau dimusnahkan dan sejak itu hilanglah benda seni pahat dan ukiran tradisional.

Bukan hanya patung yang menghilang, bahkan tulisan Batak yang diwariskan leluhur pun tidak dikenal lagi oleh generasi lebih muda. Padahal dulu para dukun menuliskan ajarannya dalam Buku Pustaha yang terbuat dari kulit kayu dikeringkan. Demikian juga Tunggal Panaluan, tongkat penuh dengan ukiran, sekarang sudah sirna di makan zaman. Hampir semua warisan peninggalan leluhur sudah terancam punah dan yang tersisa hanya kisahnya.

Buku “BATAK WARISAN LELUHUR YANG TERANCAM PUNAH” memuat Asal Muasal Suku Batak, Kepercayaan Kepada Roh Leluhur, Penelitian Mengenai Peninggalan Leluhur, serta terdiri dari delapan bagian. Pertama, Rumah dan Ukiran. Kedua, Peralatan Rumah Tangga. Ketiga, Perhiasan dan Pakaian. Keempat, Pustaha dan Tunggal Panaluan. Kelima, Naga Morsarang dan Perminaken. Keenam, Senjata. Ketujuh, Patung. Kedelapan, Sarkofagus, Joro, dan Topeng.

Majalah Bulanan DALIHAN NA TOLU edisi 128/Januari 2018

Masyarakat Batak masih dapat bersyukur karena beberapa pejabat pemerintah Hindia Belanda dan penginjil dari Jerman mengumpulkan benda-benda terlarang itu dengan tujuan sebagai koleksi pribadi. Sebagian besar kemudian dikumpulkan di Museum di negeri Belanda dan Jerman.

Gambar barang pusaka peninggalan leluhur dalam buku ini diperoleh penulis dari “Koninklijk Instituut voor de Tropen” di Amsterdam, “Ethnografisch Museum” di Delft, “Rijksmuseum voor Volkenkunde” di Leiden, “Museum voor Land en Volkenkunde” di Rotterdam, “Archiv und Museum Stiftung” di Wuppertal, “Linden Museum” di Stuttgart, dan “Museum Negeri Sumatera Utara” di Medan. Selain itu juga dari desa terpencil di Samosir, Toba, Angkola, dan lainnya. (Hutanta)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel