Dr. Pontas Sinaga, M.Sc: Diperlukan Suatu Riset dan Inovasi Dalam Pembangunan Pariwisata Danau Toba

JAKARTA, DNT News – Pelaksanaan pembangunan pariwisata di Kawasan Danau Toba (KDT) dimulai dari infrastruktur antara lain jalan tol, ring road Samosir, bandara, taman bunga/kebun raya. Timbul masalah yakni pencemaran dan pengrusakan lingkungan dimana kesadaran masyarakat atas kebijakannya masih rendah. Sebagian masyarakat menolak tanah adat mereka menjadi jalan umum atau tempat wisata.

Hal ini dikatakan Dr Pontas Sinaga MSc dalam Webinar Pollung Masyarakat Hukum Adat Batak menyambut 75 Tahun Kemerdekaan RI bertajuk “Pembangunan Pariwisata Danau Toba, Untuk Siapa?” yang digelar Lokus Adat Budaya Batak (LABB), Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), dan Batak Center (BC), Kamis 27 Agustus 2020, di Jakarta.

“Pertanyaan yang muncul, apakah masyarakat KDT sudah siap secara mental untuk pembangunan pariwisata? Untuk itu diperlukan suatu riset atau penelitian mendalam sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan di masyarakat, inovasi, dan studi banding yang diwakili masyarakat desa,” katanya.

Disampaikannya, riset hadir ketika sedang menghadapi masalah. Di Indonesia pengambilan kebijakan belum semuanya didasari riset yang membuat tertinggal dari negara lain. Berbeda dengan di negara maju dimana semua kebijakan Pemerintah didasari oleh riset. “Riset itu bukan ‘dagang asongan’ yang hasilnya langsung dinikmati. Riset itu adalah investasi jangka panjang dan berkelanjutan,” ujarnya mengutip pernyataan Prof Dr BJ Habibie ketika menjabat Menristek.


Menurutnya, sampai saat ini riset di Indonesia masih kurang apalagi di KDT. Padahal di luar negeri sudah menjadi hal yang utama. Semua kemajuan dalam negeri memerlukan peningkatan dana riset dan pengembangan untuk mendongkrak inovasi dan daya saing. “Inovasi yang tidak dapat ditunda lagi di KDT antara lain kedai kopi dan lapo tuak. Tuak sebagai minuman tradisional di Toba sebenarnya bisa dibuat dan dikemas seperti minuman umum sake di Jepang,” terangnya.

Dr Pontas Sinaga MSc dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mempertanyakan, mengapa Pemda di KDT kurang memperhatikan riset? Inovasi apa? Inovasi dalam hal pelayanan umum, keramahtamahan, infrastruktur, harga makanan dan minuman, harga souvenir, serta marketing. “Karena kemajuan pariwisata di Danau Toba akan terwujud jika dilakukan riset yang mendalam,” ucapnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020

“Tanpa riset maka tidak akan akan ada inovasi. Tanpa inovasi dengan melakukan sesuatu cara yang baru untuk menjawab permasalahan, maka suatu bangsa akan sangat bergantung pada produk teknologi bangsa lain,” sambungnya.

Diutarakannya, LIPI sendiri sudah memberikan sumbangan ke Danau Toba yakni inovasi pengelolaan perairan dan budidaya perikanan darat yang berkelanjutan di TP Desa Janji Martahan Harian Boho Samosir. LIPI bermitra dengan BBI Samosir, Bappeda Kabupaten Samosir, BLK Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Samosir, dan Universitas Negeri Medan.


Dr Pontas Sinaga MSc memberikan saran secara khusus terkait dengan program Badan Pelaksana Otorita Danau Toba yakni memprioritaskan peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar, membentuk atau memfungsikan lembaga riset daerah, serta mendorong pihak swasta maupun industri mendukung hasil riset dan inovasi.

“Kita terlalu banyak berwacana, namun sedikit mengeksekusi pelaksanaannya. Jika kita ada kemauan pasti bisa. Kita harus memberdayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Misalnya membantu saudara kita di bidang support dan materi yang bisa mendukung kebutuhan pariwisata. Maka jadilah kita sebagai investor di kampung sendiri,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel