Dr. Ronsen Pasaribu, SH, MM: Bagaimana Membedakan Data dan Hoax Akibat Mudahnya Membagikan Suatu Tulisan?

JAKARTA, DNT News – Dalam perbincangan tiap hari, kita selalu berhubungan dengan data. Data bilangan jamak, lebih dari angka satu, bisa dua, tiga, dan seterusnya sampai tidak terhingga. Kalau bilangan tunggal disebut “datum” yaitu datanya satu saja. Data itu suatu fakta yang bisa berwujud apa saja yang tersaji secara nyata ada dan bisa ditangkap dengan indra sendiri. Benar-benar ada.

Hal ini dikatakan Ketua Umum DPP FBBI (Forum Bangso Batak Indonesia) Dr Ronsen Pasaribu SH MM dalam perbincangan dengan dalihannatolunews.com, Kamis 25 Mei 2019 siang, di Resto Golf Rawamangun, Jakarta Timur. “Ilmu pengetahuan, seperti statistik selalu mengumpulkan data dengan cara penelitian atau sensus. Hasilnya ditabulasi, dikelompokkan, dan dilakukan analisis untuk mencari makna data itu. Menghubungkan data dengan data lainnya akan mendapat nilai besaran hubungannya,” katanya.

Disampaikannya, hubungan itu dilihat juga sebagai faktor yang mempengaruhi dependen dan independen tergantung faktor mana yang mau dibangun sebagai penyebab dan mana sebagai akibat. Sehingga sejauh mana pengaruhnya dilihat dari besaran koefisien pengaruhnya. Apakah kecil atau besar hubungannya, tergantung pada nilai koefisien sendiri.

“Masalah akhir-akhir ini, sering kita mengalami pemaknaan yang salah karena apa yang disajikan dalam suatu tulisan bukan sebuah data. Tetapi suatu yang tidak sesuai dengan data itu sendiri. Cenderung orang memaksakan informasi dengan menyajikan data yang direkayasa, data yang salah, bahkan data yang disengaja disalahkan,” ujarnya.

Dr Ronsen Pasaribu SH MM (Ketum DPP FBBI) bersama Dr HP Panggabean SH MS (Ketum DPP KERABAT) dan Drs Tonny Rons Hasibuan SH MM (Ketum DNT-CENTER)

Dr Ronsen Pasaribu SH MM yang juga merupakan Pemerhati Agraria/Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat ini mengatakan Legal standing sumber data juga perlu diperhatikan untuk menguji kesahihannya. Apakah sumber datanya diambil dari instansi yang memang berkompeten mengeluarkan data itu? Hanya instansi yang berkompetenlah yang dapat dijadikan dasar, sehingga kita mengatakan “data” itu sahih atau dipercaya dengan tingkat kepercayaan di sekitar 5 persen.

Misalnya, bicara luas tanah. Pertanyaannya adalah lembaga apa yang punya legal standing memberikan informasi data itu? Semua ahli ukur bisa mengukur asal menggunakan alat pengukuran secara teknis. Sarjana tehnik bisa mengukur tanah, akan tetapi para petugas ukur di BPN-lah yang diberikan Undang-Undang bisa melakukan pengukuran kadaster dengan nilai Recht Kadaster.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 144/Mei 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 144/Mei 2019

Kesalahan penggunaan data, akan berdampak buruk dalam mengambil kesimpulan. Dalam dunia “media sosial (medsos)”, ajakan untuk memahami data ini mendesak sekali bagi pengguna medsos. Harus cermat data apa yang dimuat itu. Apakah sumbernya memiliki legal standing untuk mengeluarkan data itu. Dengan kata lain, apakah data itu dari bidangnya atau tidak?

“Jika kita yakini data itu tidak sahih, maka jangan digunakan karena akan merugikan diri sendiri. Bahkan, kalau diteruskan maka lebih banyak lagi orang yang tersesat. Ibarat gunung es, kesalahan demi kesalahan akan bergulir dibaca oleh orang banyak lagi. Kita bahkan ikut berkonstribusi membuat kegaduhan hanya karena kita mencopas (copy-paste) data yang salah. Hal ini dalam istilah populer “berita Hoax”, berita kebohongan. Akibat mudahnya membagikan suatu tulisan,” urainya.


Pada akhir perbincangan, Dr Ronsen Pasaribu SH MM mengatakan bahwa di komunitas terkecil suatu organisasi, kecermatan membaca data menjadi penting agar bahannya dapat dipercaya, tanpa menimbulkan bias atau keributan hanya karena belum menguasai data. Sudah serta merta menyampaikan, bahkan seolah-olah menguasai permasalahannya. Padahal datanya kurang, salah membaca, atau bahkan data “hoax”.

“Sekali kita salah masih bisa diperbaiki. Namun kalau sekali kita berbohong dengan berita hoax, akan fatal akibatnya. Oleh karena itu marilah kita belajar untuk menggunakan akal sehat secara kritis untuk melihat apakah data ini sahih atau hoax. Jika sudah sahih, silahkan gunakan data itu. Tapi kalau hoax, segera buang atau tidak mencopasnya,” pungkasnya. (DN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel