Dr. Ronsen Pasaribu, SH, MM: Ompu Kita Dahulu Membangun Rumah Tahan Gempa dengan Teruji Kecanggihan Teknologi

JAKARTA, DNT News – Menyoal bangun rumah, ternyata orang Batak, ompu kita dahulu sudah ahli (seperti ahli sipil) dalam membangun “papan” atau rumah tinggalnya. Mereka membangun rumah tanpa gergaji, tanpa paku, tanpa studi, dan tanpa gambar rancangan arsitektur. Intinya tanpa teknologi canggih, mereka sudah bisa membangun rumah tahan gempa.

Hal ini dikatakan Dr Ronsen Pasaribu SH MM, Ketua Umum DPP FBBI (Forum Bangso Batak Indonesia), kepada dalihannatolunews.com, Senin 13 Mei 2019, terkait rumah adat Batak teruji kecanggihan teknologi yang tidak kalah dengan teknologi terkini. “Mereka mungkin masih di era Industri 1.0, dengan alat batu dan besi. Luar biasa ompu kita dahulu,” katanya.

Disampaikannya, di Sungepining dia membuat banyak catatan menarik berupa catatan lintas dekade atau mungkin lintas generasi. Catatan itu terinspirasi ketika dia memperhatikan rumah asli orang Batak dan sopo godang-nya di Sungepining. Dia pun memperlihakan foto-foto rumah dan sopo godang yang menunjukkan kehebatan teknik sipil Bangso Batak pada zaman mula-mula membangun sebuah kampung.

Pada kesempatan di Sungepining, dia berkunjung ke daerah perkampungan. Dia pun mewawancarai generasi kedua bahkan ketiga. Mereka masih bertali-temali dengan ibunya yakni Dorkas Emelia Dongoran. Sebab keluarga ibunya yang membuka Sungepining, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

“Gagah sekali rumah panggung yang memiliki luas sekitar 130 m2. Sisi teknik sipilnya mengikuti fungsi kemasyarakatan yang sering menerima tamu. Ada tempat duduk di beranda rumah yang digunakan sebagai tempat berbincang-bincang sambil minum kopi. Pada lokasi lain ada dapur memakai kayu bakar untuk perapian.” ujarnya.

Rumah asli orang Batak zaman dulu di Sungepining yang berusia sudah hampir 100 tahun
Rumah asli orang Batak zaman dulu tampak gagah dengan teknologi sederhana tetapi canggih

Dr Ronsen Pasaribu SH MM, Pengamat Bona Pasogit ini seakan bertanya “Kapan rumah-rumah tersebut dibangun?” “Jangan kaget, rumah-rumah itu dibangun sejak 1920-an pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Yang menarik, rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu Meranti. Atap terbuat seng atau ingul. Cara membelah kayu, bukannya pakai gergaji, tetapi dibaji dengan hanya menggunakan kampak,” jawabnya.

“Tepatnya sarman, sejenis kampak. Matanya bisa dicabut. Lalu untuk menghaluskan di-rimbas sampai halus. Alat penyambung tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan kayu atau bambu. Namun begitu diikatkan, sambungannya sangat kuat dan tidak goyang sedikitpun. Sehingga tahan gempa,” urainya.

Sopo Godang (Aula Pertemuan) zaman dulu yang digunakan sebagai tempat rapat ompunta membahas sesuatu
Bentuk rumah pada generasi berikutnya sekarang yang telah mengadopsi kemajuan zaman

Selain itu, seni bentuk atap dan pemanis di tampak depan sudah ditonjolkan oleh masyarakat. Tentu ada makna, jika ada lancip di atas dengan kayu salib dan belalai gajah pertanda adalah rumah kelas keturunan Raja Panusunan Bulung atau Raja Bius di Batak Toba.

Dr Ronsen Pasaribu SH MM yang juga merupakan Pemerhati Agraria/Pertanahan ini menyarankan kepada keluarganya di sana agar memelihara rumah-rumah itu, namun bisa direnovasi tanpa menghilangkan teknik sipil aslinya. Di samping masih indah, masih memiliki nilai budaya tinggi baik dari artistik maupun penggunaannya. Jika dibandingkan dengan bangunan yang sekarang, dengan teknologi mutakhir seperti bahan semen, kayu, dan atap seng, tentu ada plus-minusnya. Selera masyarakat zaman sekarang terlihat mengadopsi rumah di perkotaan. Namun, ini adalah kekayaan budaya, kalau masih menyaksikan rumah tinggal dan rumah adat seperti di Sungepining ini.


“Semakin rindulah kita jika pulang kampung, bisa menyaksikan kebudayaan lintas zaman yang sudah lebih 9 dekade lalu. Jauh sebelum negara kita merdeka pada 17 Agustus 1945. Transformasi teknologi boleh berubah, sementara sifat dan kebijakan lokal masih harus digali dan sejauh masih relevan dipertahankan,” terangnya.

Dia mengatakan bahwa desa itu adalah desa ibunya yang sarat dengan nilai Habatakon (nilai-nilai luhur budaya Batak) tinggi sejak dahulu kala. “Di sinilah saya saksikan betapa masyarakatnya kompak, padu-padan antara hula marboru terlebih di bidang kerohanian. Seratus persen Desa Sungepining memegang iman Kristen dan missionaris pertama sudah datang dan mengajar di luat ini,” pungkasnya. (AAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel