Drs. Jerry Rudolf Sirait: MUKI Terpanggil dan Berkomitmen untuk Mengambil Bagian Secara Aktif dalam Pembangunan Nasional

JAKARTA, DNT News – MUKI dan umat Kristen di Indonesia, dalam kesetiaannya kepada Raja dan Kepala Gereja, committed merealisasikan tanggung-jawabnya di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. MUKI, mesti mengadakan konsientisasi tentang tanggung jawabnya itu juga mengenai latar belakang kehadirannya di bumi Indonesia.

Hal ini dikatakan Sekretaris Dewan Pengawas MUKI Drs Jerry Rudolf Sirait dalam surat elektoniknya kepada dalihannatolunews.com di Jakarta. “Melalui MUKI, kiranya para anggotanya selalu setia sebagai Indonesia 100%, Kristen 100%, dan masyarakat mondial 100%. Saya sebagai Halak/Bangso Batak, ya 100% Batak,” katanya.

Disampaikannya, MUKI adalah organisasi Kristen sama dengan organisasi Kristen lainnya. Namun MUKI bukanlah Gereja, bukan lembaga gerejawi dan bukan pula Partai Kristen. MUKI adalah ormas, adalah lembaga keumatan Kristen bidang sosial kemasyarakatan.

Dia membenarkan bahwa MUKI memiliki kesamaan dengan Gereja, lembaga gerejawi, Partai Kristen, dan lembaga-lembaga keumatan Kristen lainnya, dalam beberapa hal.

Pertama, pimpinannya adalah Tuhan Yesus Kristus yang adalah Tuhan, Allah dan Juruselamat; sebagai Raja dan Kepala Gereja (GMKI biasa menyebutnya “yang Empunya gerakan”). Kedua, bertanggung-jawab merealisasikan missio Dei/missio Christi/missio Ekklesia, yang menjadi missio persona bagi tiap-tiap warga Gereja/umat Kristen yaitu menyelamatkan dunia dan manusia. Ketiga, sebagai (bukan menjadi) garam dan terang dunia, berkat bagi bangsa-bangsa, berbuah banyak dan buahnya lezat.

Keempat, eksistensi, pelayanan, dan perjuangannya berdasarkan Alkitab sebagai Firman Tuhan (Alkitabiah), berpusat pada Tuhan Yesus Kristus (Christocentris) dan inti-sari ajarannya adalah Kasih Agape (Agapis). Kelima, dalam kerangka bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dasarnya adalah Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. Keenam, terikat pada ketentuan perundang-undangan/regulasi di Indonesia. Tentu masih bisa ditambah lagi.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 145/Juni 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 145/Juni 2019

Drs Jerry Rudolf Sirait yang merupakan mantan Direktur Eksekutif BK-PTKI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia) menyampaikan perbedaan mencolok yakni bahwa MUKI adalah (1) wadah berhimpun umat Kristen secara nasional, wilayah dan daerah, lintas denominasi; (2) sebagai wujud kehadiran Gereja dalam partisipasi sosial kemasyarakatan, partisipasi politik (politik dalam artian terkait dengan negara, bernegara dan menegara); (3) sebagai pusat penyiapan kader oikumenis dan kebangsaan. Serta lainnya.

“MUKI terpanggil dan berkomitmen untuk mengambil bagian secara aktif dalam Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila dan dalam Pembangunan Gereja Tuhan sebagai Tubuh Kristus di Indonesia. MUKI pun turut serta menukikkan syalom, kasih, keadilan dan kebenaran, perdamaian, persaudaraan sejati dan keutuhan ciptaan/lingkungan hidup,” ujarnya.


Apabila MUKI memperoleh rubrik di APBN/APBD sesuai tingkatannya, itu adalah wajar, sebagai penampakan hak sekaligus wujud dari tanggung-jawab eksistensialnya, perkumpulan berbadan hukum. “Roti (dalam APBN dan APBD) itu adalah juga roti MUKI adalah rotinya Gereja, lembaga gerejawi, dan lembaga keumatan Kristen sejauh sudah memenuhi ketentuan juridis yang berlaku,” sebutnya.

Drs Jerry Rudolf Sirait menekankan agar MUKI cerdas dan bijaksana untuk membangun dan mengembangkan hubungan dan kerja-sama, baik internal mau pun eksternal. Justru aspek jejaring itulah salah satu tolok ukur keberadaan dan keberhasilan MUKI. MUKI mesti berjejaring dengan Pemerintahan pada semua aras dan tempat, berjejaring dengan Gereja-gereja, lembaga-lembaga gerejawi dan lembaga-lembaga keumatan lainnya. Sinergitas itulah salah satu “barometer” MUKI.

“Tidak dapat ditawar-tawar. MUKI mesti tetap setia dan taat pada NKRI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945 dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan dalam semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel