Edo Panjaitan, Ketua Umum Demi Anak Generasi (DAG): Anggap Kecenderungan Intoleransi Dipicu Kisruh Perpolitikan

JAKARTA, DNT News – Kecenderungan moderasi pada perkembangan politik masih mengedepankan ego kekuasaan. Sehingga aksi-aksi intoleransi sudah bukan lagi karena berlatar sosiologis atau ekonomis tapi bertendensi politis praktis.

Hal ini dikatakan Edo Panjaitan, Ketua Umum Perkumpulan Demi Anak Generasi (DAG), Selasa 23 Januari 2018, di Jakarta. Dia angkat bicara soal kecenderungan intoleransi yang akan berlangsung selama menyambut tahun politik dewasa ini.

“Masalahnya, kecenderungan intoleransi ini sangatlah terasakan mewarnai perpolitikan di Pilkada DKI Jakarta yang mungkin saja menjadi barometer bagi pilkada daerah lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, meski bernuansa politis, gaya perpolitikan semacam itu sudah menciderai demokrasi dan memunculkan kekuatiran terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Perlu ada rembug nasional antar petinggi partai politik, agar masing-masing punya kesepakatan untuk mencegah aksi-aksi intoleransi, persekusi, dan ancaman teror lainnya selama berlangsungnya Pilkada,” cetusnya.

Berikutnya, sergahnya kemudian, sikap aparat keamanan harus tegak lurus untuk mengambil tindakan tegas kepada pelaku intoleransi dan meningkatkan pengamanan yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda setempat. “Jadi gotong royong menjaga situasi kamtibmas agar tetap kondusif, dan tidak membiarkan teror politik terjadi,” tegasnya.


Dia menambahkan, pengerahan massa menjelang di masa Pilkada ini jangan sampai berkembang menjadi brutal merusak fasilitas milik pemerintah maupun warga, mengganggu, dan bahkan menakutkan warga.

“Jika teror politik ini terus dibiarkan, maka semua orang akan menjadi terbiasa melakukan semaunya, sehingga sangat tidak mungkin terkendali lagi di kemudian hari,” ujarnya cemas.

Edo Panjaitan meyakini, upaya rembug nasional petinggi partai politik merupakan jalan terbaik untuk memecahkan ancaman intoleransi yang lebih hebat lagi. “Perlu ada kesadaran bersama, bahwa untuk berpolitik jangan sampai mengorbankan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara. Harus caranya sehat, dan sesuai konstitusi. Bukan malah menciderai demokrasi,” tandasnya.

Seperti diketahui bahwa sepanjang 2018 ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Sebab, selain ada Pilkada serentak juga akan dibuka pendaftaran pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden peserta Pilpres 2019 pada Agustus tahun ini. (RED)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel