Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing: Melakukan Pertemuan Pertama Sebagai Jalinan Silaturahmi dengan Ketua DPRD dan Gubernur Sumatera Barat

PADANG, DNT News – Maksud kedatangan kami seperti biasanya dalam rangka mengunjungi daerah pelayanan HKBP yang tersebar di dalam dan luar negeri. Selalu mengupayakan untuk menyapa, bertemu, dan bersilahturahmi atau beramah-tamah dengan Pemerintah Daerah setempat, Perwakilan Rakyat, Lembaga/instansi, dan lainnya.

Hal ini dikatakan Ephorus HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing ketika bersilaturahmi dengan Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar) Hendra Irwan Rahim, Jumat 24 Agustus 2018, di Kantor DPRD Sumbar, Padang. Kemudian sore hari dilanjutkan dengan Gubernur Sumbar di kediamannya. “Silahturahmi ini merupakan pertemuan pertama Pimpinan HKBP dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat,” katanya.

Kehadiran Ephorus HKBP di Kota Padang dalam rangka kunjungan pastoral selama tiga hari, Jumat-Minggu 24-26 Agustus 2018. Ephorus didampingi Mantasia Siahaan (Ompu Boru), Pdt Horas YM Purba MTh (Praeses HKBP Distrik I Tabagsel Sumbar), Pdt Victor Ambarita STh (Pendeta HKBP Ressort Padang), Pdt Daslan Rajagukguk STh (Wakabiro Jemaat), Pdt Alter Pernando Siahaan STh (Sekretaris Ephorus), Albert (Anggota DPRD Provinsi Sumbar), Wismar Panjaitan (Anggota DPRD Kota Padang), Pdt Jaya Sihombing, dan Utusan Jemaat.

Gubernur Sumatera Barat menerima Plakat HKBP sebagai tanda kasih dan kenang-kenangan kunjungan Ephorus HKBP bersama rombongan
Ketua DPRD Sumatera Barat menerima Plakat HKBP sebagai tanda kasih dan kenang-kenangan kunjungan Ephorus HKBP bersama rombongan

Pada kesempatan itu, Ephorus memperkenalkan HKBP dari peta pelayanan yang memiliki 31 Distrik yang tersebar di dalam dan luar negeri, 755 Ressort, 3.421 Gereja, 153 Pos Pelayanan. Khusus di Sumatera Barat terdapat 4 Ressort dengan pelayan Pendeta 16 orang.

“HKBP merupakan gereja terbesar di Asia Tenggara dan organisasi keagamaan terbesar ketiga di Indonesia dengan Pelayan berjumlah sekitar 3.018 orang. Padang, Sumatera Barat ini termasuk juga dalam peta pelayanan HKBP yaitu di Distrik I Tapanuli Bagian Selatan sampai Sumatera Barat dengan kantor Distrik berdomisili di Padangsidempuan yang dipimpin Praeses Pdt Horas YM Purba MTh,” katanya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 136/September 2018
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 136/September 2018

Ephorus menekankan selain menjalankan Pelayanan Gereja intern, HKBP juga mengarahkan gereja harus aktif dan partisipatif dalam mendukung pembangunan daerah, turut mensukseskan program pemerintah untuk masyarakat damai dan sejahtera. Ephorus sebagai Pimpinan HKBP bertugas menjalin kerjasama dengan berbagai pihak secara khusus Pemerintah Daerah setempat dan lembaga lainnya.

Menurutnya, komunikasi baik, berinteraksi satu sama lain, bekerjasama untuk tujuan bersama kemajuan NKRI, dan warga hidup dalam damai merupakan bagian misi bersama gereja dengan Pemerintah termasuk DPRD Sumatera Barat.

“Kalau jemaat yang kami layani di Sumatera Barat ini adalah warga yang bapak layani atau pimpin juga sebagai Gubernur Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar. Oleh karena itu kami sangat berharap dan yakin agar bapak dan seluruh jajaran pemerintah Provinsi Sumatera Barat ini tetap memberikan perhatian kepada Umat Kristen secara khusus HKBP yang ada di Sumatera Barat ini,” imbuhnya.

Ephorus HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing berharap kiranya komunikasi dan sambutan baik ini dapat terus terjalin dengan baik dan ada banyak kerjasama yang bisa dilakukan untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat. Jemaat HKBP mayoritas suku Batak namun bukan menjadi eksklusif, gereja HKBP inklusif, terbuka bagi siapa saja, di dalamnya tidak hanya orang Batak.


Ditambahkannya, tidak ada maksud ataupun visi untuk membangun gereja dimana-mana sebab gereja HKBP itu dibangun oleh jemaatnya sendiri. Secara khusus tentang orang Batak. Menariknya, bila orang Batak merantau, ada dua hal yang selalu dibawa yaitu adat dan gereja.

“Di mana ada orang Batak, maka di situ ada adatnya dan akan berencana membangun gerejanya. Yang dirindukan itu adalah gereja HKBP. Bahkan di sebagian tempat, setelah selesai dibangun, barulah diresmikan oleh Praeses atau Pimpinan HKBP, dan diutus pelayan ke jemaat itu,” urainya.

Dari aspek budaya, HKBP juga turut melestarikannya karena HKBP lahir dalam konteks masyarakat Batak. “Ada budaya baik berupa pakaian, bahasa, tulisan aksara, norma-norma hidup, maupun lainnya yang dilestarikan dengan baik. Terlihat dari ibadah maupun pelayanan sehari-hari, walaupun tetap juga mempersiapkan pelayanan sesuai perubahan zaman,” sebutnya. (Mar)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel