Hatopan Raja Toga Sitompul dohot Boruna Se-Jabodetabek Banten: Pelaksanaan Pesta Adat di Masa Pandemi COVID-19

JAKARTA, DNT News – Badan Pengurus Harian Hatopan Raja Toga Sitompul dohot Boruna (BPH-HRTSB) Se-Jabodetabek Banten membantu pemerintah dalam menjalankan roda perekonomian dari sektor pariwisata melalui perencanaan Pesta Adat di Jabodetabek dengan mempersiapkan protokol kesehatan dan protokol rundown.

Atas dasar inilah Hatopan Raja Toga Sitompul dohot Boruna (HRTSB) Se-Jabodetabek Banten mengeluarkan Surat Edaran No: 006/BPH-HRTSB/SE/VI/2020 tentang Pelaksanaan Pesta Adat di Masa Pandemi COVID-19, Selasa 16 Juni 2020, di Jakarta yang ditandatangani Ketua Umum Jansen Sitompul SE SH dan Sekretaris Umum Ir Sarda Sitompul.

Dalam Surat Edaran tersebut disampaikan beberapa hal berdasarkan hasil rapat BPH-HRTSB dengan Penasehat Ketua Umum di Bidang Adat dan Seksi Adat yang diadakan Minggu 14 Juni 2020, di Wilayah Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Pertama, masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan oleh Pemerintah, memberi peluang untuk melaksanakan rangkaian seremonial Pesta Adat Pernikahan dengan tetap mematuhi aturan. Kedua, Pesta Adat yang tertunda sejak penetapan PSSB sampai dengan saat ini, sebaiknya direncanakan ulang kembali oleh kedua belah pihak (Paranak dan Parboru).

Suasana rapat BPH-HRTSB Se-Jabodetabek Banten dengan Ketua Umum Jansen Sitompul SE SH bersama Penasehat Ketua Umum di Bidang Adat dan Seksi Adat, Minggu 14 Juni 2020, di Wilayah Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur

Ketiga, perencanaan ulang pelaksanaan Pesta Adat supaya melibatkan pengurus HRTSB, agar dapat menunjuk orang yang menjadi Pengawas pelaksanaan protokol kesehatan bekerja sama dengan pihak aparat dari Gugus Tugas COVID-19. Keempat, pengurus HRTSB akan terlibat dalam pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan sejak Marhusip, Martonggo Raja, dan Pelaksanaan Pesta.

Kelima, pelaksanaan rangkaian adat di Gedung tidak lebih dari 3 (tiga) jam. Keenam, harus ada kesepakatan pihak Paranak dan Parboru untuk mematuhi seluruh aturan yang telah ditetapkan Pemerintah.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 156/Juli 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 156/Juli 2020

Untuk itu disampaikan beberapa hal teknis sebagai bahan pertimbangan yakni (a) maksimum jumlah undangan 50 persen dari kapasitas Gedung, (b) protokol kesehatan saat pemberkatan harap dikoordinasikan dengan pihak Gereja, (c) protokol kesehatan saat pelaksanaan Pesta Adat harap dikoordinasikan dengan pihak Gedung, (d) agar kerumunan orang tidak terlalu lama di gedung maka semua rangkaian pelaksanaan adat dipersingkat tanpa menghilangkan “ruhutruhut ni paradaton”.

Dalam Surat Edaran tersebut dibuatkan lampiran-1 terkait Tugas Pengurus yang ditunjuk sebagai Pengawas Protokol Kesehatan dari sejak Marhusip, Martonggo Raja, Martumpol (jika ada), Pemberkatan, dan Acara. Pertama, bekerja sama dengan aparat Gugus Tugas COVID-19 yang ditugaskan oleh Pemerintah saat pelaksanaan rangkaian acara. Kedua, memberi penjelasan dan masukan kepada suhut (Sitompul) tentang protokol kesehatan sesuai dengan aturan Pemerintah.


Ketiga, mengingatkan atau menegur semua hadirin/undangan agar tetap mematuhi protokol kesehatan, antara lain (a) mewajibkan melakukan registrasi di buku tamu, (b) mewajibkan mengukur suhu badan sebelum masuk ke gedung. (c) mewajibkan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum masuk ke gedung, (d) mengawasi agar tidak melakukan jabat tangan, berpelukan atau cium pipi. (e) mewajibkan menggunakan masker. (f) mengawasi agar menjaga jarak satu sama lain saat memasuki gedung, duduk di gedung, pasahat tumpak, dan atau mangulosi.

Keempat, melaporkan kepada tim Gugus Tugas jika ada hadirin yang tidak mau mematuhi protokol kesehatan. Kelima, memastikan kepada suhut bahwa pihak Gereja dan Gedung akan menyiapkan petugas dan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksaaan protokol kesehatan, bila tidak maka pihak suhut harus menyediakannya. Keenam, mengingatkan parhata (pihak Sitompul) agar pelaksanaan “ruhutruhut ni adat” langsung pada intinya supaya jangan bertele-tele.

Pelaksanaan Pesta Adat di Masa Pandemi COVID-19 yang ditetapkan HRTSB ini ternyata juga dipakai dalam simulasi resepsi pernikahan menuju transisi New Normal. Mereka berharap kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi dari segala marabahaya dan pandemi  COVID-19 segera berakhir. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel