Horas Bangso Batak: Desak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Menutup Perusahaan Perusak Lingkungan Danau Toba

JAKARTA, DNT News – Menyikapi kerusakan lingkungan di kawasan Danau Toba, DPP Horas Bangso Batak (HBB) meminta dengan sangat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman agar menutup semua perusahaan yang mencemari dan merusak Danau Toba.

Hal ini dikatakan Ketua Umum DPP HBB Lamsiang Sitompul SH MH dan Sekretaris Jenderal Luhut Situmorang SH kepada dalihannatolunews.com, Jumat 09 Agustus 2019 malam, di Jakarta. “Kami telah menyurati dan bertemu dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait hal ini tadi siang di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta,” katanya.

Diuraikannya, kerusakan Danau Toba sudah dalam kondisi yang sangat mengkuatirkan. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumut dimana 91 persen airnya sudah tercemar sejak tahun 2005-2012. “Sementara penelitian tahun berikutnya sampai saat ini tidak pernah di-release lagi. Padahal Danau Toba merupakan sumber air utama bagi sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut yang dapat membahayakan kesehatan,” katanya.

Lamsiang Sitompul SH MH yang berprofesi sebagai pengacara ini menguraikan bahwa Danau Toba sudah seperti toilet raksasa karena banyaknya perusahaan yang membuang limbah atau kotoran antara lain peternakan babi PT Allegrindo Nusantara, perusahaan KJA PT Aquafarm Nusantara ditambah limbah dari hotel, restoran, maupun usaha lainnya.

Rombongan DPP HBB dipimpin Ketua Umum Lamsiang Sitompul SH MM dan Sekjen Luhut Situmorang SH ketika bertemu dengan pejabat Kementerian LHK, Jumat 09 Agustus 2019, di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta
Dari ka-ki: Lamsiung Sitompul SH MH (Ketua Umum DPP HBB), Luhut Situmorang SH (Sekretaris Jenderal), Oktaviany Sianipar (Bendahara DPC Pematangsiantar), dan Jamilin Purba (Ketua DPC Humbahas)

Selain itu sebagian besar ikan khas yang dulu hidup di Danau Toba tidak ditemukan lagi. Diduga terjadi karena kerusakan ekosistem sehingga ikan tersebut tidak mampu bertahan hidup, adanya dugaan ikan predator yang saat ini ada di Danau Toba, dan dugaan terjadi proses pemandulan terhadap ikan di Danau Toba sehingga tidak dapat berkembang lagi.

“Hasil penelitian Bank Dunia pun menunjukkan bahwa Danau Toba sudah rusak parah. Dimana hanya 50 meter dari atas permukaan yang ada oksigen dan di bawah itu sudah tidak ada lagi kehidupan,” urainya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019

Dia juga sangat menyesalkan banyaknya hasil kajian dari dalam dan luar negeri yang membuktikan kerusakan Danau Toba. Padahal kawasan Danau Toba merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Akibat dari kerusakan Danau Toba akan menghambat program pengembangan pariwisata.

“Yang lebih menyedihkan lagi, kerusakan lingkungan Danau Toba telah menghancurkan perekonomian masyarakat. Dimana nelayan yang dulu mencari ikan di Danau Toba sekarang sudah kehilangan mata pencaharian karena ikan seperti mujahir, pora-pora, ihan batak, dan lainnya sudah hampir tidak ditemukan lagi,” tandasnya.


Untuk itulah Lamsiang Sitompul SH MH meminta kepada Kementerian LHK agar menindaklanjuti kerusakan Danau Toba dengan menutup semua perusahaan yang merusak lingkungannya. Harus dilakukan penegakan dan penuntutan hukum secara terpadu baik secara pidana maupun perdata. “Hal ini sesuai dengan penegasan Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Danau Toba pada akhir Juli 2019 lalu untuk menutup semua perusahaan yang merusak dan mencemari Danau Toba,” tegasnya.

Dia pun menyarankan agar membentuk tim terpadu untuk pembersihan Danau Toba yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, penegak hukum, dan kelompok masyarakat yang memberikan perhatian terhadap pelestarian kawasan Danau Toba. “Lakukan segera recovery atau pemulihan kawasan Danau Toba dengan membentuk tim dan menyediakan anggaran yang memadai,” pungkasnya. (TN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel