Ir. Sanggam Hutapea, MM: Serukan Evaluasi Menyeluruh Kegiatan Pemasaran Pariwisata dan Festival Danau Toba

JAKARTA, DNT News – Pelaksanan Festival Danau Toba (FDT) sebagai event pariwisata yang sudah berlangsung setiap tahunnya, dimana tahun ini digelar 06-09 Desember 2017 di Sipinsur Humbang Hasundutan, tampaknya kualitas semakin menurun. Karena ternyata, kegiatan ini belum mampu mendatangkan wisatawan, sehingga terkesan hanya sekedar pesta seremonial.

Hal ini dikatakan Ir Sanggam Hutapea MM, Pemerhati dan Pengusaha Pariwisata, kepada dalihannatolunews.com, Kamis 14 Desember 2017, di Jakarta. Untuk itu dia menyerukan agar segera dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan pemasaran pariwisata Danau Toba termasuk mengevaluasi penyelengaraan FDT 2018 mendatang, agar target market yang dituju menjadi jelas dan efektivitas setiap kegiatan terukur.

Disampaikannya, tujuan digelarnya FDT bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba. “Kalau hanya berkutat pada seremonial, tentu tidak akan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Danau Toba,” ujarnya.

Menurutnya, satu yang tak kalah penting dilakukan yakni banyak berkomunikasi dengan mengundang dan melibatkan para pelaku industri pariwisata yang lebih memahami keinginan wisatawan, seperti pemilik hotel, restauran, biro perjalanan, dan masyarakat sekitar Danau Toba.

Ir Sanggam Hutapea MM dalam kunjungan wisata ke Eropa menikmati suasana pantai danau dengan bangunan di perbukitan yang tertata rapi di Nice, sebuah kota yang sangat indah di Perancis

“Dengan demikian bukan tidak mungkin akan menghasilkan pelaksanaan event pariwisata di Danau Toba yang tidak lagi terfokus hanya menyelenggarakan FDT sekali setahun, tapi bisa-jadi akan muncul berbagai event wisata Danau Toba yang dilaksanakan tujuh pemerintah daerah di beberapa destinasi wisata kawasan Danau Toba itu sendiri,” terangnya.

“Jadi even itu akan lebih baik dilakukan bukan lagi sekali setahun, namun secara rutin dengan hari yang berbeda. Tentu, tujuannya di samping melestarikan budaya, juga menjadi daya tarik dan added value bagi wisatawan untuk menikmati keindahan alam Danau Toba,” sambungnya.

Ir Sanggam Hutapea MM sangat menyayangkan dimana selama ini belum ada event wisata yang digelar di kawasan Danau Toba yang gaungnya secara nasional maupun internasional. “Jadi harus dilakukan evaluasi, merubah orientasi pasar, dan menyediakan budget untuk promosi melalui media cetak dan elektronik. Sehingga sasarannya untuk mendatangkan wisatawan kelak tercapai,” katanya.

Majalah Bulanan DALIHAN NA TOLU edisi 127/Desember 2017

Pria yang dalam tiga tahun terakhir, setidaknya empat kali dalam setahun melakukan kunjungan wisata ke Eropa Barat dan Eropa Timur ini menemukan fakta lemahnya promosi Danau Toba di Eropa. Dia pun menyarankan agar promosi Danau Toba lebih efektif, maka pemerintah harus menanfaatkan keberadaan Duta Besar Indonesia yang ada di seluruh dunia. “Promosikanlah Danau Toba itu melalui Kedubes kita. Saya pikir akan lebih efektif untuk menjaring wisatawan,” tandasnya.

Pada akhir perbincangan, dia menghimbau agar tujuh pemerintah daerah yang memiliki wilayah di kawasan Danau Toba harus fokus melakukan pembenahan secara global. Pemda harus membuat tata ruang bersama sehingga pembenahan dan pembangunan kawasan Danau Toba tidak tumpang tindih.

“Pemda harus berembuk mengevaluasi atraksi budaya dan olahraga yang akan ditampilkan agar dapat menarik wisatawan dan menjadi produk yang diminati wisatawan. Juga melihat contoh di Jimbaran, Pulau Bali, bagaimana cara menyediakan areal untuk disewakan kepada pengusaha guna mengembangkan wisatawa kuliner,” pungkasnya. (Fantoro)

Komentar (2)

2 Comments on “Ir. Sanggam Hutapea, MM: Serukan Evaluasi Menyeluruh Kegiatan Pemasaran Pariwisata dan Festival Danau Toba”

  1. Demi mencapai kemajuan fantastis Pariwisata Danau Toba :

    Mutlak dilakukan akumulasi, akomodasi, dan koordinasi kepentingan2 bersama melalui gagasan dan ide2 baru yang genuine secara kompak, solid, reguler/berkesinambungan, dan konsisten antara Pemda dan masyarakat setempat (Kab. Samosir, Kab. Simalungun, Kab. Karo, Kab. Dairi, Kab. Humbahas, Kab. Tapanuli Utara, dan Kab. Tobasa), serta didukung dengan kerjasama multi benenfit dgn para praktisi pariwisata (Hotel, Restauran, Biro Jasa Perjalanan, dan Para Pengusaha Kuliner lainnya), serta tidak kala penting dengan adanya dukungan kerjasama dengan kantor2 kedutaan negara2 lain yang ada di Indonesia, dan kantor2 kedutaan Indonesia yang ada di negara2 lain sebagai wadah dan fasilitator publikasi dan promosi.

    Keindahan dan keaslian Danau Toba, Pulau Samosir dan daerah pinggiran danau toba mutlak harus dijadikan sebagai unsur dan produk utama yang harus ditonjolkan dalam publikasi dan promosi.

    Sedangkan unsur pendukung seperti: budaya dan kearifan lokal, fasilitas pariwisata, pertandingan olah raga, seni budaya dan keberadaan jenis2 kuliner manca negara lainnya, hanyalah sebagai packaging untuk pemanis, pemikat dan pengingat bagi para tenaga pemasar dan turis yang akan datang.

    Unsur daya tarik dan pemikat mutlak harus dilakukan secara bervariasi dan konsisten.

    Kemampuan IQ, EQ, Marketing Attitude, serta penguasaan ketrampilan optimal bahasa komunikasi, seperti Berbahasa Indonesia dengan baik, Inggris, Mandarin, Jepang, ditambah beberapa bahasa dari Eropa Barat dan Timur, perlu diadakan dan ditingkatkan secara bertahap dan sesuai kebutuhan.

    Diatas semuanya itu, bahwa yang terutama dan utama dipersiapkan adalah kesediaan dan kerelaan masyarakat setempat terlebih dahulu harus siap menerima masuknya beragam budanya manca negara yang dibawa oleh para turis, harus siap menerima datangnya kemajuan2 teknologi dari manca negara, serta harus siap bertahan, menjaga dan konsisten memelihara budaya kearifan lokal sendiri tanpa harus merasa asing, merasa terusik dan terganggu.

    Budaya dan kearifan lokal bangsa batak harus tetap lebih kuat dan lebih menonjol dipertontonkan disetiap even2 sebagai penguatan edukasi dan publikasi seni budaya batak, sedangkan budaya2 dari manca negara yg diikutsertakan hanyalah merupakan pemanis, pemikat dan pengikat bagi setiap turis yang datang.

    Tanpa Visi dan Misi yang kuat, jelas dan konsisten, serta mampu mengakomodasi semua kepentingan2 dari berbagai pihak yang terkait, baik sebagai tuan rumah, dan para mitra kerja terkait, rasanya kemajuan pariwisata danau toba sulit dikembangkan luaskan, sehingga acara pesta danau toba selalu dan akan dilakukan sebagai acara rutinitas dan seremonial saja, yang tidak berdampak kuat dan positif terhadap pembangunan dan pengembangan perekonomian rakyat (UMKM) setempat, terlebih tidak akan dapat meningkatkan penerimaan asli daerah (PAD) setempat.

    BERPIKIR CERDAS DAN VISIONER sangat dibutuhkan segera demi mewujudkan Pariwisata Danau Toba (PDT) yang maju dan meng-Global (Universal).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (2)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel