Jhohannes Marbun, SS, MA, Koordinator MADYA: Hilangnya Kepekaan maupun Lumpuhnya Kesadaran akan Pentingnya Menjaga, Memelihara, Melestarikan Tinggalan Budaya

JAKARTA, DNT News – Sungguh miris sekaligus memprihatinkan sekali mengetahui Museum Bahari pagi tadi terbakar. Belum dapat dipastikan penyebabnya. Hal ini mesti diselidiki secara tuntas.

Hal ini dikatakan Jhohannes Marbun SS MA, Koordinator MADYA (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya), Selasa 16 Januari 2018, kepada dalihannatolunews.com. “Sejak tahun 2009 telah diluncurkannya Program Multiyears Gerakan Nasional Cinta Museum yang diawali dengan Program Revitalisasi Museum-Museum yang ada di Indonesia,” katanya.

Disampaikannya, hal ini semakin digencarkan di kala terjadi musibah besar di Jagad Permuseuman Tanah Air yaitu pada Agustus 2010 terjadinya pencurian 75 Koleksi Emas dari Museum Sonobudoyo Yogyakarta dimana sebagiannya merupakan Koleksi Masterpiece.

Kala itu Menteri Kebudayaan dan Pawisata RI mengatakan akan memperbaiki sistem keamanan museum. Nyatanya September 2013, Museum Nasional Jakarta dibobol maling. Koleksi yang hilang 4 koleksi Emas Masterpiece dari era Majapahit.

Setelah kejadian tersebut, masih terjadi kasus pencurian koleksi museum di Manado, dan terakhir pencurian di Museum Negeri Riau pada pertengahan 2016 lalu.

“Sampai hari ini, kasus-kasus tersebut belum terungkap dan sepertinya dibiarkan untuk tidak diselesaikan. Pencurian merupakan salah satu kasus yang sering terjadi di Museum tapi tidak ada penyelesaian,” ujarnya.


Jhohannes Marbun SS MA menguraikan kerentanan lain adalah bencana, secara spesifik kebakaran. Pada Oktober 2017, MADYA dalam evaluasi 3 (tiga) tahun seķtor kebudayaan sudah merilis kerentanan warisan budaya (heritage) termasuk di dalamnya adalah museum yaitu terhadap bencana kebakaran sebagaimana terjadi terhadap rumah adat Batak Jangga Dolok di Toba Samosir, dan yang terakhir di Desa Adat Kampung Tarung di Sumba Barat pada Oktober 2017.

“Tiga bulan setelah kejadian di desa Adat Tarung, kini terjadi lagi di Museum Bahari Selasa 16 Januari 2018 pagi tadi,” ujarnya.

Dia menyesalkan kecenderungan kasus maupun peristiwa yang terjadi belumlah dijadikan sebagai evaluasi untuk memperbaiki permasalahan yang ada. Hilangnya kepekaan maupun lumpuhnya kesadaran akan pentingnya menjaga, memelihara, maupun melestarikan tinggalan budaya belum menjadi denyut nadi pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah maupun Pemda.

“Sedih sekali, bahwa setiap kejadian yang ada akan dianggap sebagai peristiwa biasa yang tentunya akan berimbas pula ketiadaan kesadaran untuk sungguh-sungguh menaikkan adrenalin membenahi permasalahan akut dalam pelestarian warisan budaya kedepannya,” pungkasnya. (Fd)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel