Kakak Kandung Bupati Samosir Ditersangkakan karena Diduga Aniaya Aktivis Danau Toba

JAKARTA, DNT News – Kepolisian Resort (Polres) Samosir menetapkan Jautir Simbolon (JS), saudara kandung Bupati Samosir Rapidin Simbolon sebagai tersangka kasus pemukulan terhadap dua aktivis Lingkungan Hidup dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT).

Sesuai dengan siaran pers yang diterima dalihannatolunews.com, hal ini dibenarkan Kapolres Samosir AKBP Donald P Simanjuntak, ketika dikonfirmasi, Jumat 06 Oktober 2017. Saat ini berkas tersangka JS telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Samosir. “Ini kita sudah tangani sesuai dengan prosedur dan berkasnya juga kita sudah kirim ke Kejaksaan Negeri Samosir,” katanya.

Kedua korban tersebut bernama Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun. Penetapan tersangka tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan(SP2HP) dari Kepolisian Resort Samosir tertanggal 25 September 2017 maupun SP2HP tertanggal 03 Oktober 2017.

Sebelumnya, Polres Samosir telah melakukan cek Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir. Polisi juga telah memeriksa para saksi korban, Sebastian dan Jhohannes, serta sembilan orang saksi lainnya.

Korban Sebastian Hutabarat di ruang SPKT Polres Samosir 15 Agustus 2017
Kondisi korban Jhohannes Marbun sesaat setelah terjadi pemukulan 15 Agustus 2017

Kuasa Hukum kedua korban, Sandi E Situngkir di Jakarta menilai laku lancung ini berpotensi mandeg. Pasalnya, JS adalah abang dari Rapidin, Bupati Samosir. JS juga sempat ditahan tanggal 08 September 2017, tetapi dibebaskan kembali. Menurut pihak Polres Samosir, JS dibebaskan karena isteri JS, Emi telah mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan.

“Ada apa ini? Ini adalah dagelan hukum yang membuktikan bahwa JS begitu berpengaruh sehingga yang bersangkutan dapat menentukan berapa hari yang bersangkutan harus ditahan dan berapa hari tidak ditahan. Untuk itu JS harus ditahan karena sangat berpengaruh di Samosir dan dimungkinkan mempengaruhi para saksi dan menghilangkan barang bukti,” katanya.

Menurutnya, permintaan Visum Et Revertum (VER) sudah diterima Polres Samosir dan dijelaskan ada luka robek di bibir korban Sebastian Hutabarat. “Sedangkan korban Jhohannes Marbun mengalami bengkak di pelipis kanan, memar dan pecah di bibir atas maupun bawah, bengkak di bagian pundak kiri, serta beberapa luka lainnya,” ujarnya.

Sandi E Situngkir menjelaskan, JS tidak hanya melakukan penganiayaan terhadap Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun, tetapi juga korban pengeroyokan karena dilakukan secara berkelompok. JS sempat menyandera korban dan melakukan pelecehan seksual kepada Sebastian. “Karena itu, kami mendorong agar pihak Polres Samosir bukan hanya memasukkan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Tetapi juga beberapa pasal lainnya, yakni: Pasal 333 KUHP tentang Penculikan/Penyekapan, pasal 170 tentang Pengeroyokan, dan pasal 289 KUHP tentang Percabulan,” katanya.

Seperti diketahui, kasus penganiayaan Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun terjadi sejak Selasa 15 Agustus 2017 di lokasi penambangan dan pemecah batu Galian C, Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir yang diketahui milik JS. (SP)

Komentar (1)

One Comment on “Kakak Kandung Bupati Samosir Ditersangkakan karena Diduga Aniaya Aktivis Danau Toba”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (1)

G+ Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel