Ketua Umum DPP KERABAT Dr. H.P. Panggabean, MS: Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kegiatan Adat Dukacita dan Sukacita

JAKARTA, DNT News – Akhir Maret 2020 lalu seorang tetangga kami lansia yang sudah memiliki cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan meninggal dunia. Pada malam penghiburan singkat dari gereja, kami sebagai tetangga turut hadir. Setelah Pendeta dan rombongan pulang, kami memberi saran agar hula-hula dan keluarga dekat seperlunya saja diundang untuk mengikuti acara penghantar ke pemakaman.

Hal ini diceritakan Ketua Umum DPP KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak) Dr HP Panggabean SH MS dalam rilis beritanya kepada dalihannatolunews, Senin 04 Mei 2020, di Jakarta terkait kegiatan adat dukacita dan sukacita di tengah merebaknya wabah pandemi COVID-19 saat ini.

“Saran kami agar hanya Ulos Saput yang diminta dari hula-hula. Artinya kalau ada hula-hula lain yang hadir maka acara adat Saur Matua ditunda. Mereka dengan sadar setuju bahwa gangguan COVID-19 tidak mungkin mengharapkan dongan tubu, hula-hula, dan besan bisa hadir,” katanya.

“Karena acara adat Saur Matua ditunda, maka kami tanyakan anak dan hela almarhum. Kalau nantinya Inang hita (istri almarhum) berpulang, apakah kalian bersedia melanjutkan adat Saur Matua dengan segala kewajiban menyediakan biaya acara adat Saur Matua lanjutan?” sambungnya.


Dr HP Panggabean SH MS mengatakan ternyata keluarga almarhum menyadari bahwa acara saat itu adalah acara adat terbatas dan acara adat Saur Matua jadi perlu persiapan. Acara adat Saur Matua adalah acara adat na gok dan dapat diartikan sebagai acara “mangalindangkon parhepengan na gok” diikuti musik gondang Batak atau gondang hasapi.

“Meski saat ini acara adat Saur Matua di Jakarta sudah kurang memadai. Dalam arti kehadiran hula-hula bona ni ari, bona tulang, tulang, dan tulang rorobot sudah berjalan timpang karena belum tentu dapat hadir. Dalam adat na gok atau adat Saur Matua mengedepankan berkat doa ulos pasu-pasu sampai ke anak cucu,” ujarnya.


Disampaikannya, budaya Batak yang mampu melaksanakan ulaon adat na gok akan sangat mengeratkan hubungan kekerabatan marga-marga Batak bagi semua keturunan ompu martinodohon. Dampak positif adat na gok, semua warga Batak akan semakin membina hubungan kekerabatan itu di perantauan dan di desa.

Sejalan dengan gangguan pandemi COVID-19, pihaknya juga menyarankan agar acara pernikahan, hari ulang tahun, dan lainnya ditunda. Dia berharap gangguan pandemi COVID-19 berakhir pada akhir bulan Mei atau paling lambat medio bulan Juni 2020.


Dr HP Panggabean SH MS juga mengatakan sebagai orang beriman, pihaknya mendukung dalam doa agar bangsa Indonesia segera bisa luput dari gangguan pandemi COVID-19. Didasari Injil Mazmur 23:4 “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”.

“Ada keyakinan kami, gangguan pandemi COVID-19 yang mengharuskan setiap warga kota tinggal di rumah, akan semakin menghargai peranan hukum adat suku untuk membina kerukunan antara sesama suku/marga dengan warga suku lain,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel