Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Apa Arti dan Makna Mengenang Mereka Yang Meninggal?

JAKARTA, DNT News – Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada. Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti. Segala sesuatu lainnya serba tidak pasti. Memento Mori! bunyi sebuah peribahasa latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Apa perlunya kita dingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar, kita sudah tahu. Tetapi di dalam kenyataan, kita sering pura-pura tidak tahu atau lebih tepat tidak mau tahu.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait apa arti dan makna mengenang mereka yang meninggal? “Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian. Orang Batak bilang: ’Santabi jabu on nunga mate si anu’ (maaf atas rumah ini, si anu itu sudah meninggal),” katanya.

Disampaikannya, manusia sengaja menghindar dari perenungan atau pembahasan tentang kematian. Manusia tidak mau dekat-dekat dengan urusan tentang orang mati. Pokoknya mau menjauhkan diri sejauh mungkin dari segala sesuatu yang menyangkut kematian. “Kita tahu bahwa kita akan mati. Namun kita tidak mau tahu bahwa kita akan mati. Kita berlagak tidak tahu,” ujarnya.

Namun dengan bersikap pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu, sebenarnya manusia sedang membohongi dan membodohi diri sendiri. Dengan bersikap demikian kematian bukan jadi tidak ada, melainkan cuma disembunyikan untuk sementara waktu. Sebuah kenyataan, bukan untuk ditutupi melainkan untuk dihadapi.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 151/Desember 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 150/November 2019

“Oleh sebab itu, kita diingatkan: Memento mori! Ingat Anda akan mati! Apakah peringatan itu bermaksud untuk menakut-nakuti? Bukan! Apakah untuk mengancam atau mengintimidasi? Juga bukan! Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori . Tulisnya, Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana,” sebutnya.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menguraikan, Memento Mori dikemas sebagai sebuah permohonan. Memohon kepada Tuhan untuk belajar “menghitung hari” berarti menyadari bahwa hari-hari terdiri dari sebuah jumlah yang terbatas.



“Untuk itu, pemazmur memohon agar ia mampu bersikap bijak dengan hari-hari yang terbatas dan belajar menjalani hidup secara bijak. Inilah sikap pemazmur terhadap kematian. Ia tidak menjauhkan diri dan juga tidak mendekatkan diri pada kematian. Yang diperbuatnya adalah menghadapi kematian dengan cara menjalani hidup secara bijak pula,” ucapnya.

Di dalam gereja ”tahun gereja” dimana 52 minggu ibadah berganti-ganti corak mengikuti masa. Tahun gereja dimulai dengan Masa Adven yang terdiri dari empat hari Minggu sebelum tanggal 25 Desember. Sesudah itu tibalah Masa Natal sampai Hari Epifani, masa Paskah, Minggu Trinitatis, dan diakhiri “Minggu Memperingati Mereka Yang Meninggal”. “Dengan menapaki tahun gereja, kita belajar melihat dan memahami karya Kristus sebagai sebuah kesatuan yang utuh,” urainya.


Pada akhir suratnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU mengatakan dalam kehidupan ini manusia bertumbuh serta berjuang dalam suka dan duka. Namun semua ada waktunya, ada akhirnya. Nafas akan berhenti dan umur tergenapi. Segalanya akan habis, barang apapun yang dimiliki di dunia ini tak ada yang dapat dibawa. Semuanya berakhir, hanya jiwa saja yang masih hidup dan menghadap kepada Tuhan dengan membawa iman, pengharapan, dan kasih.

“Jika kita merenungkan semua ini akan dapat melihat mana yang penting dan mana yang tidak bagi kehidupan selanjutnya di surga. Kita akan menjadi bijaksana menggunakan waktu untuk semakin mengenal, mengasihi, dan memuliakan Tuhan. Sebab Dia-lah yang akan kita jumpai setelah kehidupan ini. Dia-lah yang merupakan segalanya bagi kita, dan yang menjadi sumber dan puncak kebahagiaan kita yang sejati dan kekal selamanya,” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel