Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Bagaimana Emosi Dapat Menjadi Penggerak Yang Positif Dalam Kehidupan?

JAKARTA, DNT News – Amarah mungkin merupakan emosi yang paling destruktif bila tidak terkendali. Kemarahan mengakibatkan pembunuhan, penghancuran harta benda, balas dendam, dan menjadikan kata setajam pisau belati. Kekejaman terhadap anak-anak, kekerasan suami kepada istri, penghangusan kota-kota, dan perang  yang menghancurkan bangsa merupakan efek samping amarah.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya kepada dalihannatolunews.com. “Dengan teknologi canggih dewasa ini, bukan tidak mungkin amarah akan meluluh-lantakan dunia. Para ahli psikologi modern memandang kemarahan sebagai suatu emosi primer, alami, dan matang yang dialami semua manusia pada suatu waktu serta merupakan sesuatu yang memiliki nilai fungsional untuk kelangsungan hidup,” katanya.

Disampaikannya, kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan yang tak terkendali dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pribadi dan sosial. Terdapat 8 (delapan) hal yang sering dilaporkan terkait tingkat kemarahan.

Pertama, Hipertiroidisme terjadi biasanya pada wanita karena kelenjar memproduksi hormon tiroid terlalu banyak yang mempengaruhi sistem metabolism dimana dapat meningkatkan kegelisahan, gugup, dan sulit berkonsentrasi. Kedua, Obat kolesterol Statin yang diresepkan sebagai obat kolesterol tinggi menimbulkan efek samping yang menyebabkan seseorang mudah kehilangan kesabaran.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019

Ketiga, Diabetes yang kekurangan gula darah akan meningkat kemarahan. Ketidakseimbangan kadar gula dapat menyebabkan ketidakseimbangan serotonin dalam otak yang berakibat menjadi lebih agresif, kebingungan, marah berlebihan, dan bahkan serangan panik. Keempat, Depresi berakibat seseorang dapat merasa sangat marah, gelisah serta menyebabkan perasaan tidak berharga, malu atau merasa bersalah.

Kelima, Autisme dimana gangguan perkembangannya bisa mempengaruhi pertumbuhan otak secara normal serta keterampilan sosial dan komunikasi. Banyak hal yang menstimulasi sensorik dapat meningkatkan kemarahan penderita autisme. Keenam, Alzheimer merupakan penyakit bentuk demesia atau kepikunan yang mempengaruhi fungsi otak termasuk perilaku emosional dan kepribadian seseorang yang menyebabkan ledakan kemarahan.


Ketujuh, Obat tidur seperti Benzodiazepin bekerja dengan memperlambat berbagai fungsi otak. Dengan pengurangan beberapa fungsi, obat tidur ini bisa menambah kemarahan seseorang. Kedelapan, Sindrom pra menstruasi (PMS) pada wanita terjadi karena tidak seimbangnya hormon seperti estrogen dan progesterone yang membuat lebih mudah marah tanpa alasan yang jelas.

“Melihat delapan penyebab tersebut, kita kini mengerti bahwa kemarahan orang yang dicintai belum tentu berasal dari ego-nya. Penyakit dan obat-obatan dapat mempengaruhi serotonin dalam otak dan memicu kemarahan yang tidak wajar,” ujarnya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengatakan bagaimana mengelola kemarahan ini? Tuhan Yesus, misalnya, pernah marah dan akibatnya positif. Amarah merupakan tenaga penggerak yang hebat. Ketika marah, kekuatan fisik dan keberanian bertambah. Amarah adalah stimulator. Sebenarnya kemarahan dapat disalurkan ke dalam berbagai perbuatan positif. Marah harus disadari bukanlah dosa. ”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”

Dengan marah-marah seseorang seolah-olah mendapat kekuatan baru. Anak-anak menjadi gemetar ketakutan lalu mengiyakan tanpa membantah lagi, rekan sekerja  menyingkir. Kemarahan dipakai sebagai senjata. “Awas! Jangan sampai aku marah! Memberi kesempatan pada amarah seperti itu dapat berupa tingkah laku yang menindas orang lain dan membenarkan tingkah laku diri sendiri,” tandasnya.


Pada akhir suratnya, penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU mengingatkan Yesus membuat rasa marah untuk melakukan yang positif. Cara terbaik untuk menghilangkan sikap pemarah ini adalah dengan mengembangkan kebiasan bersyukur. Syukur kepada Tuhan karena kasih-Nya yang memungkinkan Ia mengarahkan segala hal untuk kebaikan. Carilah setiap alasan untuk berterima kasih kepada Tuhan. Akhirnya akan bersyukur karena tidak lagi dikendalikan amarah.

“Marah satu kali, sukacita hilang; Marah dua kali, teman-teman menjauh; Marah tiga kali, tekanan darah naik; Marah empat kali, stress; Marah lima kali, stroke. Dan seterusnya….. urusan San Diego Hills,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel