Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Banjir Membangkitkan Kesadaran dan Tanggungjawab Manusia akan Memelihara Alam

JAKARTA, DNT News – Awal tahun 2020 ini kita dikejutkan dengan banjir. Apa yang menyebabkan banjir ini? Karena curah hujan atau muara sungai meluap. Kenapa? Karena air laut pasang kian tinggi. Kenapa? Karena permukaan laut kian naik. Kenapa? Karena bongkah es di kutub kini mulai mencair. Kenapa? Karena suhu udara kian panas. Kenapa? Karena kita menebang pohon, mencemari udara dengan knalpot, cerobong asap pabrik, pembakaran sampah, dan lainnya.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait musibah banjir untuk membangkitkan kesadaran dan tanggungjawab manusia akan memelihara alam. “Itu gambaran sederhana tentang mata rantai kerusakan lingkungan hidup kita. Semua jadi sengsara. Di rumah ini dulu belum pernah banjir. Sepuluh tahun lalu banjir 5 cm. Lima tahun lalu 40 cm. Eh sekarang 80 cm. Ranjang, meja makan, dan lemari terendam air lumpur. Orang mengungsi naik perahu,” katanya.

“Rumah yang tidak kena banjir juga ikut sengsara. Listrik padam. Telepon putus. Air bersih tidak ada. Tidak bisa keluar rumah. Jalan jadi sungai. Mobil mogok. Lalu lintas macet. Sampah  berserakan. Kantor tutup. Pasar tutup. Toko tutup. Ekonomi lumpuh total,” sambungnya.

Disampaikannya, penduduk desa lebih sengsara lagi. Bukit longsor. Rumah tertimbun. Bendungan jebol. Pohon tumbang. Jembatan roboh. Sawan membusuk. Ternak mati. Ikan hanyut. Penyakit merajalela. Pokoknya, semua orang merasa sengsara kalau alam menjadi murka.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengingatkan untuk bermawas diri dan melihat apa yang telah diperbuat terhadap alam. Dimulai dengan perkara kecil yaitu sehelai kantong plastik yang dibuang sembarangan. Kantong plastik itu masuk ke got, lalu terbawa ke kali lalu bertumpuk di waduk. Got jadi mampat, kali jadi dangkal, dan pompa waduk pun macet. Akibatnya air hujan jadi liar dan menggenangi pemukiman. Lihat juga apa yang diperbuat terhadap alam di pedalaman. Hutan digunduli. Bukit digaruk akibatnya terjadi longsor dan terjadilah banjir.

Padahal sebenarnya alam adalah sahabat dan mitra manusia. Baik alam maupun manusia adalah sama-sama ciptaan Tuhan. Tuhan menempatkan manusia di tengah alam supaya hidup bersama dengan alam. Hal ini sudah ditulis sejak halaman pertama Alkitab Kejadian dalam dua cerita penciptaan. “Cerita pertama ditulis para pengarang kelompok imam pada abad ke-5 yakni manusia bertugas menguasai dan menggarap alam. Cerita kedua ditulis pengarang kelompok Yahwist empat abad kemudian yakni mengusahakan dan memelihara,” ujarnya.


Alam ini bukan milik manusia, melainkan milik Tuhan. Manusia ditempatkan di bumi untuk memelihara bumi. Dalam buku Dunia di Ambang Kepunahan, Antony Milne menulis, ”Sejarah menunjukkan bahwa awal menurunnya peradaban adalah gangguan iklim. Bangsa-bangsa seluruhnya terjepit oleh gerakan penekanan udara dingin dari utara dan perluasan gurun pasir ke selatan, atau jika mereka tinggal di pantai mereka harus melarikan diri dari gelombang pasang yang terus bergerak cepat”.

Hal dapat dilakukan untuk mengusahakan dan memelihara alam. Menanam pohon di halaman rumah, sekolah, mesjid, gereja, dan kantor. Berhemat dengan air  meskipun itu air sumur yang gratis. Jangan tinggalkan ruangan dengan lampu atau alat elektronik yang menyala. Jika bisa berjalan kaki atau bersepeda. Jangan buang sampah sembarangan. Berhemat dengan plastik dan styrofoam karena sampahnya susah terurai. “Penciptaan menekankan sisi keharmonisan, manusia dan ciptaan lain hidup saling menjaga satu sama lain untuk mempertahankan kehidupan,” ujarnya.


Pada akhir suratnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengutip pendapat Grabiele Dietrich bahwa ekoteologi mendorong komunitas beriman untuk terlibat dalam melestarikan alam dan mengungkap pelaku perusakan ekologi. Bukan kemudian manusia dan alam berjalan dalam relasi transaksional yang berarti relasi saling menguntungkan satu sama lain. Tetapi dalam relasi tanggung jawab serta persaudaraan dalam Allah.

“Dengan demikian menjadi kristen, berarti menjadi bagian dari karya Allah untuk menata kehidupan harmonis. Keikutsertaan dalam melestarikan alam, bukan lagi harus dilakukan sebagai bentuk formalitas taat negara atau ikut-ikutan masyarakat sekitar. Tetapi sebagai bentuk kesadaran dan tanggungjawab sebagai umat ciptaan Allah. Dimulai dari menyadarkan diri sendiri, berlanjut ke lingkungan sekitar, dan lalu masyarakat luas. Semua itu tentu saja diperbuat untuk memuliakan Sang Pencipta,” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel