Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Emosi Adalah Karunia Tuhan

JAKARTA, DNT News – Sebagaimana manusia membutuhkan makanan dan minuman setiap hari, maka manusia juga membutuhkan sukacita. Sumber segala sukacita adalah Allah dan sukacita yang benar terdapat pada orang yang benar berdasarkan agama. Ini tidak mengandung sukacita duniawi atau karena berhasil mengalahkan orang lain. Sukacita ini hanya berdasarkan pada Allah saja.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya kepada dalihannatolunews.com. “Menurut Rasul Paulus, sukacita itu adalah sesuatu yang senantiasa perlu bagi orang yang percaya kepada Tuhan dan sukacita oleh Roh Kudus adalah ciri khas dari Kerajaan Allah. Sukacita ini selalu berhubungan dengan emosi,” katanya.

Disampaikannya, bagaimana emosi di dalam kehidupan kita? Bayangkan bila dunia tanpa emosi. Dunia yang tidak mengenal kesedihan, penderitaan, frustrasi, dan marah. Tidak ada pula sukacita, gelak tawa, dan kegembiraan. Hidup pun menjadi hambar.

“Namun Allah berniat baik ketika Ia menciptakan manusia yang memiliki perasaan yang sering kita sebut emosi. Ia ingin manusia dapat merasakan, menikmati, dan menggunakan perasaan itu untuk kesempurnaan segala sesuatu yang Ia ciptakan dalam diri kita, termasuk emosi,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 147/Agustus 2019

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menguraikan, emosi adalah karunia Tuhan. Ada yang mengatakan perempuan bertindak lebih sesuai dengan perasaannya dan lebih peka daripada laki-laki. Perempuan lebih banyak dikuasai oleh otak kanan, sementara pria lebih banyak bertindak atas perintah otak kiri. “Satu hal yang menjadi kenyataan bahwa perempuan lebih sering membiarkan emosi menguasai dirinya. Laki-laki memikirkan apa yang harus ia lakukan, sementara perempuan mencari tahu bagaimana perasaannya tentang hal itu,” urainya.

Sebagai perempuan, cenderung bertindak berdasarkan perasaan sebelum berusaha memikirkan masalahnya. Menyatukan otak dan emosi itulah yang dimaksudkan firman Allah dengan ‘hati’. Cara untuk menjembatani kesenjangan antara maksud Allah dan kenyataan pengalaman berarti mengawinkan pikiran dan emosi serta meletakkan keduanya di bawah penguasaan Allah.


“Pada umumnya, usaha kita untuk mengendalikan emosi berangkat dari situasi yang berubah-ubah, dan bukannya atas dasar kenyataan. Inilah sebabnya kita jarang berhasil untuk jangka waktu yang lama,” tandasnya.

Lalu, bagaimana cara mengendalikan emosi kita? Dengan memahami fakta-fakta yang mendasar tentang Allah. Pemahaman ini akan mengubah tingkah laku. Atas dasar kenyataan, manusia dapat memutuskan untuk mengubah diri. Perasaan yang ada dalam diri bertautan dengan hal-hal yang dipercayai dan dikerjakan. ”Allah tidak pernah menghendaki agar emosi menjadi dasar perbuatan kita. Sebaliknya, perbuatan harus ditentukan oleh kebenaran-Nya yang mutlak,” tegasnya.


Pada akhir suratnya, penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU mengatakan bahwa dalam hal ini, perasaan hanya memperkaya perbuatan kita. Tidak lebih dari itu. Bukankah Amsal 16:9 mengatakan: ”Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Sebenarnya, manusia bukan tidak ingin merasakan. Manusia hanya ingin mengganti apa yang dirasakan bila itu menyakitkan atau tidak menyenangkan.

“Mengekang emosi bisa menimbulkan sakit kepala, maag, atau ketergantungan pada obat penenang. Mungkin kita tidak pernah mengalami dampak emosi seperti ini. Tetapi, ada satu hal yang pasti, kita menjadi tidak peka. Orang lain mungkin tersinggung karena sikap kita, namun kita tidak menyadarinya. Orang yang tidak mau merasakan tidak akan menyadari sakit hati orang lain,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel