Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Menyambut Pariwisata Yang Dikembangkan di Danau Toba

JAKARTA, DNT News – Beberapa negara bergantung dari industri pariwisata sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu, pengembangan industri pariwisata merupakan salah satu strategi yang dipakai. Pariwisata telah ada sejak peradaban manusia. Sebagai kegiatan ekonomi, pariwisata baru berkembang awal abad 19, dan sebagai industri internasional dimulai sejak 1869.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait menyambut pariwisata yang dikembangkan di Danau Toba. “Saat ini, pariwisata telah menjadi industri utama penghasil devisa di berbagai negara. Ketika terjadi kelesuan perdagangan barang, pariwisata tetap mampu menunjukkan kualitas yang semakin meningkat,” katanya.

Disampaikannya, menurut Murphy (1985) dalam Pitana dan Gayatri (2005:45) pariwisata adalah keseluruhan dari elemen-elemen terkait (wisatawan, daerah tujuan wisata, perjalanan, industri, dan lainnya) yang merupakan akibat dari perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata, sepanjang perjalanan tersebut tidak permanen.

Salah satu jenis pariwisata minat khusus adalah wisata ziarah yang berkaitan dengan kepercayaan atau adat istiadat masyarakat dan aktivitas keagamaan yang disebut Wisata Rohani. Wisata ziarah dapat dilakukan oleh perseorangan maupun rombongan. “Perjalanan ini mereka lakukan ke tempat-tempat yang dianggap suci dan penting bagi perkembangan iman orang atau komunitas yang bersangkutan, ke makam pemimpin yang diagungkan,” ujarnya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menguraian, Wisata Rohani dengan melihat keindahan alam yang digabung dengan sejarah gereja dan kebudayaan sangat baik untuk membentuk manusia unggul. Halaman pertama Alkitab tidak menggambarkan suasana dan konteks sebuah istana yang megah, melainkan suasana dan konteks sebuah kebun yang bersahaja.

“Allah bukan digambarkan sebagai seorang raja yang dikelilingi oleh para dayang, melainkan sebagai seorang tukang kebun yang berjalan seorang diri di kebun. Allah digambarkan sedang menyingsingkan lengan dan bekerja dengan tangan sendiri di suatu kebun yang baik dan indah,” ucapnya.


Pemerintah telah benar-benar membenahi Danau Toba. Semua komponen utama pariwisata meliputi atraksi, amenitas, dan aksesibilitas dari kelas standar hingga premium adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensinya. Ditambah pelayanan yang nyaman, diharapkan kekayaan alam, sejarah, dan budaya Danau Toba makin dikenal hingga ke pelosok dunia.

Menurut Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU, berbagai kegiatan bisa dibuat gereja menyambut program ini. Gereja yang tinggal di perkotaan membuat program untuk Wisata Rohani di dalam pelayanan ke Danau Toba dan mengurangi Wisata Rohani ke luar negeri. Demikian juga gereja yang berada di sekitar Danau Toba terpanggil menjadi komunitas yang peduli, baik ke dalam maupun kepada masyarakat luas.


“Buah dari sikap peduli adalah bahwa hidup Dia menjadi hidup kita dan kita menjadi hidup Dia. Kita saling melibatkan diri kita sendiri. Mungkin itu maksud Kristus ketika Ia menyuruh, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” katanya.

“Kita terpanggil untuk mengusahakan dan memelihara. Sadar wisata, sadar kebersihan, tangan kita berubah menjadi tangan Kristus ketika membersihkan lingkungan. Senyum kita berubah menjadi senyum Kristus ketika melihat dan menyambut tamu-tamu wisatawan datang menikmati keindahan panorama Danau Toba. Jadi, kapan Anda berkunjung ke sana?” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel