Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Merajut Kebhinnekaan Untuk Indonesia Maju

JAKARTA, DNT News – Menuju Indonesia maju membutuhkan manusia yang kompetitif dan tidak bermental korban. Ini sangat esensial dalam membangun cita-cita manusia dan bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Sangat mudah mengidentifikasi manusia secara fisik. Itu terlihat oleh mata secara jelas. Akan tetapi, seorang manusia lebih dari sekedar aspek fisik. Dia memiliki mental, moral, dan pengetahuan.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait merajut kebhinnekaan untuk Indonesia maju.

“Kita membutuhkan mental sehat dimana kondisi keadaan individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupannya secara normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya,” katanya.

Disampaikannya, kehidupan saat ini ditandai dengan gaya hidup kompetisi. Kehidupan manusia ibarat suatu kompetisi dari dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, arena jabatan, dan kekuasaan. Setiap individu menghabiskan banyak waktunya saling bersaing mencapai tujuan.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 153/Februari 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 153 Februari 2020

“Kehidupan adalah seperti kompetisi, bukan suatu arisan. Maka itu diperlukan strategi dan taktik baik menyangkut pemenang. Ini berlaku untuk pribadi, kelompok, dan bangsa. Sikap kompetisi ini diawali dengan kompetisi dengan diri sendiri (self-competition). Bersaing dengan diri sendiri artinya berusaha untuk lebih baik dari hari kemarin demi mencapai hasil terbaik hari ini,” ujarnya.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengingatkan bahwa jika ingin unggul harus memiliki mental bersaing yang kuat, tanpa pernah berpikir bahwa kemenangan akan dapat diperoleh secara instan. Karena di tengah hidup yang penuh kompetisi, bisa muncul ‘kebencian’.


Dicontohkannya, seorang ayah melarang anaknya bermain dengan anak-anak tetangga. Ayahnya mengatakan: ”Kamu tidak boleh pergi ke rumah tetangga. Kamu main sendiri di rumah. Jangan mau didekati anak tetangga. Kalau ada anak tetangga ulang tahun kamu jangan datang. Jangan mengucapkan selamat ulang tahun. Jangan mau diberi kue atau roti. Mereka beda dengan kita, agamanya lain, sukunya lain, dan seterusnya.”

Menanamkan sikap benci sama seperti membawa anak ke arah yang keliru. Itu membuat hari depan anak jadi sesat. Yesus berkata kepada para rasul, ”… barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”


Pada akhir suratnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengatakan seseorang akan menderita karena kebencian yang dipendam. Unsur-unsur biokimiawi dalam otak menimbulkan gangguan obsesif-kompulsif berbentuk perilaku neurotik. Ciri paling kentara adalah hati gampang jadi panas. Jangankan bertemu, hanya mendengar namanya pun hati panas dan muka muram.

“Untuk menuju Indonesia maju, mari kita tinggalkan ‘kebencian’ dan tingkatkan kualitas SDM yang mampu bersaing dengan kualitas semakin baik. Kita semakin bertoleransi di tengah kepelbagaian di Indonesia. Meskipun berbeda-beda, namun semua orang itu adalah ‘gambar dan rupa Allah’ serta citra Allah. Kita adalah fitrah Allah atau cetak dasar Allah yang dinilai-Nya sebagai sungguh amat baik,” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel