Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Pendidikan Keluarga dan Nilai Anak Bagi Orang Batak

JAKARTA, DNT News – Hal ini nampak di dalam sebuah syair nyanyian: Anakonhi do na ummarga di au; Anakkonhi do hasangapon di au; Anakkonhi do hamoraon di au. (Artinya: Anakku itulah yang paling berharga bagiku; anakku itulah kehormatanku; anakku itulah kekayaanku..). Demikianlah antara lain syair lagu Nahum Situmorang: Anakkonhi do hasangapon di au.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait pendidikan keluarga dan nilai anak bagi orang Batak sangat penting. “Itulah intisari pemahaman orang Batak tentang nilai anak. Sekaligus pendorong utama untuk mendidik atau mengusahakan  pendidikan anak-anaknya setinggi mungkin,” katanya.

Disampaikannya, anak merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki potensi dan peran strategis. Kondisi bangsa Indonesia 20-30 tahun yang akan datang dapat dilihat dari kondisi anak Indonesia saat ini, karena masa depan bangsa Indonesia berada di tangan anak saat ini. Semakin baik kondisi dan kualitas anak saat ini, maka semakin baik pula kehidupan bangsa.

“Hal itu juga berlaku untuk gereja. Proses tumbuh kembang anak dalam gereja akan mempengaruhi perkembangan gereja. Gambaran masa depan gereja dapat dilihat dari cara gereja memperlakukan anak saat ini, karena anak adalah generasi masa kini dan generasi masa depan gereja,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 157/Agustus 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 157/Agustus 2020

“Gereja adalah komunitas dikdik mendidik. Orang tua perlu dididik agar mampu mendidik anak. Oleh sebab itu, ilmu Pendidikan Agama Kristen Orang Dewasa (PAK Dewasa) juga membidangi Pendidikan Orang Tua atau parenting, yang mencakup Pendidikan Hak Anak,” sambungnya.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengatakan bahwa tujuan perayaan Hari Anak Nasional 23 Juli 2020 adalah untuk menumbuhkan kepedulian, kesadaran, dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat, media, pemerintah, dan negara dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas untuk anak serta memberikan perhatian dan informasi yang seluas-luasnya kepada seluruh anak dan keluarga tentang pentingnya meningkatkan kualitas anak melalui peningkatan pengasuhan keluarga yang berkualitas.

“Tiap orang tua ingin mencintai dan mendidik anaknya. Namun, banyak orang tua salah mengerti arti pendidikan. Pendidikan berasal dari kata Latin ’edukare’ ex (keluar) dan ducare (mengantar, mengarahkan atau memimpin). Jadi pendidikan sebenarnya berarti mengantar naradidik keluar atau melepas anak keluar,” tegasnya.


Pada akhir suratnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini menyayangkan karena dalam kenyataan banyak orang tua justru bukan melepaskan anaknya keluar, melainkan menahan anaknya di dalam kungkungan pengaruh dan kekuasaan anak orang tua.

“Pengukungan ini terjadi dalam pelbagai bidang hidup. Ada orang tua yang melindungi anaknya secara berlebihan dari kesulitan dan tantangan. Anak umur sembilan tahun sudah bisa pergi sendiri ke dokter gigi, anak umur duabelas ke Kantor Pos. dan anak umur empatbelas ke bank, tetapi orang tua tidak memberi kesempatan kepada anak dan kurang mempercayai anak untuk mandiri dalam hal-hal itu,” sesalnya.

“Memang anak akan merasa sulit atau takut. Namun bila kita terus melindungi anak dari kesulitan dan tantangan, maka anak itu kelak akan terhambat perkembangan kepribadiannya. Pendidikan itu berarti ‘melepas’,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel