Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Peran Keluarga Dalam Mendidik Anak

JAKARTA, DNT News – Siapakah anak itu? Kita mengaku bahwa anak adalah “pemberian Tuhan”. Dalam pemahaman Kristiani, pemberian mengandung penugasan seperti bahasa Jerman; dalam gabe terkandung aufgabe. Kalau Tuhan memberikan sesuatu, terkandung penugasan dan tanggung jawab. Tuhan memberikan anak, dalam pemberian itu ada penugasan untuk mendidik anak yang diberikanNya.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com tentang peran keluarga dalam mendidik anak. “Benarkah keluarga merupakan sebuah wilayah tertutup bagi perubahan dari luar? Benarkah keluarga hanya menjadi obyek pengaruh dari luar; ataukah mempengaruhi masyarakat secara tidak langsung melalui pendidikan anak mereka? Dalam kenyataan, tampaklah bahwa keluarga berada dalam hubungan jalin menjalin dengan lingkungan masyarakat di mana ia berada,” katanya.

Disampaikannya, pluralitas ideologi, agama, kultur yang dialami keluarga sendiri menimbulkan bermacam reaksi dan problema. Keluarga dapat merasa dirinya terancam oleh perubahan dan tantangan, lalu menutup diri menjadi konservatif dan konvensional. Tetapi dapat juga keluarga bersikap terbuka, menganggap perlu belajar dari situasi baru dengan mengambil hal baik dan membuang yang merugikan.

“Keluarga, bagaimanapun tertutup sifatnya. Mau tak mau harus memberi respons terhadap pluralism itu. Baik itu berupa penolakan, masa bodoh, apatisme atau asal menerima, maupun sikap yang kritis terbuka yang dituangkan dalam pendidikan anak,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 148/September 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 148/September 2019

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menjelaskan di dalam keluarga ditumbuhkembangkan “kecerdasan sosial” yaitu kemampuan untuk mengerti orang lain dan mampu memilih reaksi non-verbal atau verbal yang tepat dalam suatu situasi. Sementara “kecerdasan emosional” adalah kemampuan mengolah emosi dengan mengendalikan dan dimanfaatkan.

Yesus juga digambarkan mempunyai emosi, ‘Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka’. “Emosi adalah ibarat kendaraan dan kita ibarat pengemudinya. Kita yang mengemudi, bukan sebaliknya yaitu dikemudi oleh emosi. Kita bisa menyalurkan emosi ke mana mau diarahkan,” ucapnya.


Demikian juga di dalam keluarga dikembangkan “kecerdasan majemuk” yakni kemampuan melihat kepebagaian di dalam hidupnya yang satu dengan yang lain saling membutuhkan sekalipun ada keunikan dan perbeda-bedaan. Tugas orang tua sangat tegas dikatakan di dalam Alkitab untuk mendidik anaknya: Ulangan 6:6-8; Amsal 6:20-23; Epesus 6:1-4; Kolose 3:21.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengingatkan bagaimana anak bertumbuh di dalam lingkungan keluarga dengan mengutip pernyataan Dorothy Nolte, seorang pendidik Australia. ”Anak yang hidup dengan kecaman akan belajar mencela. Anak yang hidup dalam suasana permusuhan akan belajar bertengkar. Anak yang hidup dengan ejekan akan menjadi pemalu. Anak yang hidup dengan suasana iri akan menjadi pembenci. Sebaliknya, anak yang hidup dengan dukungan akan belajar untuk punya yakin diri. Anak yang hidup dengan pujian akan belajar untuk menghargai. Anak yang hidup dalam suasana adil akan belajar bersikap adil. Anak yang hidup dengan rasa aman akan mempunyai iman. Anak yang hidup dengan restu kan menyukai dirinya. Anak yang hidup dalam suasana diterima akan belajar menemukan kasih dalam dunia.


Pendidikan di dalam keluarga dalam konteks Indonesia perlu dikembangkan “dialog” yang bersifat “edukasi”. Edukasi pun sebenarnya merupakan suatu bentuk sosialisasi namun yang dilakukan secara “intentional” menuju emansipasi, merangsang sikap kritis, kreatif, dan terbuka.

“Anugerah Tuhan yang kita miliki di dalam penemuan komputer dan gadget harus kita pertanggungjawabkan. Sebagai orang Kristen, dan terang iman kristiani, kita ini harus pro-teknologi atau anti-teknologi, pro-ilmu pengetahuan atau anti-ilmu pengetahuan, lebih mengutamakan ‘rasa’ atau ‘rasio’, ‘emosi’ atau ‘akal’? Tekhnologi adalah anugerah Tuhan yang sangat perlu dipergunakan untuk kebaikan.” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel