Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak

JAKARTA, DNT News – Pendidikan keluarga dan nilai anak bagi orang Batak sangat penting. Hal ini nampak di dalam syair nyanyian Anakonhi do na ummarga di au; Anakkonhi do hasangapon di au; Anakkonhi do hamoraon di au. Tiap baris ini didahului ungkapan yang melukiskan perjuangan dan pengorbanan orang tua untuk mengusahakan pendidikan setinggi-tingginya dan keberhasilan anaknya.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com tentang peran keluarga dalam perlindungan anak. “Demikianlah antara lain syair lagu Nahum Situmorang, Anakkonhi do hasangapon di au. Itulah intisari pemahaman orang Batak tentang nilai anak, sekaligus pendorong utama untuk mendidik atau mengusahakan pendidikan anaknya setinggi mungkin,” katanya.

Disampaikannya, anak merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki potensi dan peran strategis. Kondisi bangsa Indonesia 20-30 tahun mendatang dapat dilihat dari kondisi anak Indonesia saat ini, karena masa depan bangsa Indonesia berada di tangan anak ini. Semakin baik kondisi dan kualitas anak saat ini maka semakin baik pula kehidupan bangsa.

Hal itu juga berlaku untuk gereja. Proses tumbuh kembang anak dalam gereja akan mempengaruhi perkembangan gereja. Gambaran masa depan gereja dapat dilihat dari caranya memperlakukan anak, karena anak adalah generasi masa kini dan generasi masa depan gereja. Gereja adalah komunitas dikdik-mendidik. Orang tua perlu dididik agar mampu mendidik anak. “Oleh sebab itu, ilmu Pendidikan Agama Kristen Orang Dewasa (PAK Dewasa) juga membidangi pendidikan orang tua atau parenting yang mencakup pendidikan hak anak,” urainya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 148/September 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 148/September 2019

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menjelaskan tujuan perayaan Hari Anak Nasional 23 Juli 2019 lalu adalah untuk menumbuhkan kepedulian, kesadaran, dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat, media, pemerintah, dan negara dalam menciptakan lingkungan berkualitas untuk anak serta memberikan perhatian dan informasi kepada seluruh anak dan keluarga tentang pentingnya meningkatkan kualitas anak melalui peningkatan pengasuhan keluarga yang bermutu.

Tiap orang tua ingin mencintai dan mendidik anaknya. Namun, banyak orang tua salah mengerti arti pendidikan. Pendidikan berasal dari kata Latin ’edukare’ ex (keluar) dan ducare (mengantar, mengarahkan atau memimpin). Jadi pendidikan sebenarnya berarti mengantar naradidik keluar atau melepas anak keluar. “Namun dalam kenyataannya banyak orang tua justru bukan melepaskan anaknya keluar, melainkan menahan anaknya di dalam kungkungan pengaruh dan kekuasaan,” sesalnya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengatakan bahwa pengukungan ini terjadi dalam pelbagai bidang hidup. Ada orang tua yang melindungi anaknya secara berlebihan dari kesulitan dan tantangan. Anak umur 9 tahun sudah bisa pergi sendiri ke dokter gigi, anak umur 12 ke Kantor Pos, dan anak umur 14 ke bank. Tetapi orang tua tidak memberi kesempatan kepada anak dan kurang mempercayai anak untuk mandiri dalam hal-hal itu.

Diakuinya, memang anak akan merasa sulit atau takut, namun bila kita terus melindungi anak dari kesulitan dan tantangan, anak itu akan terhambat perkembangan kepribadiannya. Pendidikan itu berarti ‘melepas’. Itu sebabnya Kahlil Gibran (1883-1931), filsuf pendidikan Lebanon yang kemudian menetap di Amerika Serikat, mengibaratkan orang tua sebagai ‘busur’, anak panah, dan Tuhan sebagai Sang Pemanah.


Anakmu sebenarnya bukan milikmu. Mereka adalah Sang Hidup yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka memang datang melalui kamu, tetapi mereka bukan milikmu. Engkau bisa memberi kasih sayang, tapi engkau tidak bisa memberikan pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri. Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak untuk jiwanya, sebab jiwa mereka ada di masa depan yang tidak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi.

Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka, tapi jangan harap mereka dapat mengikuti alammu, sebab hidup tidaklah surut ke belakang, tidak pula tertambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana bagai anak panah, kehidupan anakmu melesat ke masa depan. Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.“ (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel