Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Refleksi Tahun Baru 2020 dan Pelayanan Pekabaran Injil

JAKARTA, DNT News – Apa sebetulnya asal usul kebiasaan membuat keramaian pada malam tahun baru? Malam tahun baru biasanya penuh keramaian. Orang bersalaman dan berangkulan. Bunyi meriam bambu, petasan, bunyi terompet, dan alat-alat musik memekakkan telinga. Kembang api dan petasan bersiuran. Langit menjadi terang benderang.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya ke dalihannatolunews.com terkait refleksi tahun baru 2020 dan pelayanan pekabaran Injil. “Hampir semua suku di dunia mempunyai tradisi berbeda namun banyak kesamaan. Kalau bagi suku Batak menyambut tahun baru, pada awal Desember dimulai membunyikan bodil bulu meriam bambu. Tepat akhir tahun, 31 Desember dilakukan marbinda dengan memotong kerbau secara bersama-sama,” katanya.

Disampaikannya, persekutuan beberapa keluarga sepakat memotong seekor kerbau atau ternak lainnya disebut “saparbindaan” atau “sapanganan lombu”. Asal-usulnya ini adalah acara mangase taon (upacara Tahun Baru), dimana semua keturunan satu kelompok wajib menghadirinya.

“Tujuan mangase taon ini ialah pemujaan yang dilakukan rutin setiap tahun dengan maksud untuk penyucian tahun tanam padi yang dilakukan pada akhir tahun panen. Upacara dilakukan untuk memohon berkat dari kekuasaan yang tertinggi agar tanaman berbuah banyak dan ternak berkembang biak,” ujarnya.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menguraikan, upacara ini kemudian dilarang Rheinische Mission Gesellschaft. Pimpinan gereja Kristen di bawah IL Nommensen mendapat banyak kesulitan, sehingga orang Batak sudah Kristen yang tidak mengikutinya diusir dari lingkungan (dipabali). Kemudian gereja merubah upacara ini dengan muatan baru yaitu mengucapkan syukur atas berkat Tuhan selama satu tahun dan sekaligus menjadi kesempatan untuk saling memaafkan.

Diuraikannya, dewasa ini keramaian malam tahun baru tidak ada sangkut pautnya dengan mangase taon memberi kurban bagi dewa-dewa. Namun mungkin tanpa sadar, keramaian dibuat untuk mengusir semacam perasaan tidak pasti tentang tahun yang baru dan hari depan. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan diliputi ketidakpastian yang mengakibatkan gelisah, resah, kuatir, takut, bingung, dan tidak menentu. Untuk mengusir perasaan ini, kita berkompensasi dengan bertindak seolah-olah merasa begitu pasti. Sebab itu kita ramai-ramai meniup terompet, tertawa tergelak-gelak, menari-nari, bersorak, dan membuat keramaian,” urainya.


Tahun 2020 di HKBP menjadi tema pelayanan ialah Orientasi Pelayanan Pekabaran Injil (Zending). Di awal tahun 2020 ini, Tuhan Allah menyapa dengan Firman-Nya yang menunjukkan perbuatan karya mengasihi manusia sebagai ciptaan-Nya sejak dahulu kala sampai saat ini. Bukan hanya untuk bangsa dan daerah tertentu, tetapi Allah menyapa semua manusia melalui Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus Juruselamat.

“Tahun 1824 tanah Batak sudah kedatangan misionaris pertama yaitu Pdt Richard Burton dan Pdt Nathaniel Ward yang diutus gereja Babtis Inggris kemudian diikuti oleh missionaris yang lain dan yang paling menonjol di gereja Batak ialah Pdt Dr IL Nommensen yang disebut menjadi Apostel orang Batak,” ucapnya.


Pada akhir suratnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengingatkan bahwa sekarang HKBP terpanggil untuk menyampaikan Injil di tengah dunia. Di dalam mengerjakan tugas sangat penting melakukan reposisi, merobah posisi, sebagai suatu upaya untuk melaksanakan yang tepat, efisien, dan berguna. Dengan demikian setiap upaya pelaksanaannya dimaksudkan agar hasilnya lebih baik, lebih bermutu, dan tidak lagi berdasarkan kebiasaan atau tradisi saja.

“Hal seperti itulah yang dilakukan Allah kepada manusia dalam upaya menyelamatkan dari keberdosaan. Itulah yang disaksikan dan dinyatakan penulis Ibrani: ‘Sejak zaman dahulu Allah telah berulangkali dan dalam berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan pesan nabi-nabi’. Artinya, Firman Allah diberitakan, namun karena kurang berbuah maka Firman Allah menjadi daging, dan itulah Yesus Kristus. Selamat mengabarkan Injil!” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel