Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, MTh: Kegembiraan dan Pengucapan Rasa Syukur Harus Mewujudkan Keadilan dan Cinta Kasih kepada Sesama yang Menderita

JAKARTA, DNT News – Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

Kutipan nats alkitab ini disampaikan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiun HKBP, dalam surat eletroniknya yang diterima dalihannatolunews.com, di Jakarta. “Kehidupan yang damai sejahtera merupakan dambaan setiap orang. Masalahnya adalah di dunia ini tidak pernah kita temukan apa yang dimaksud damai sejahtera. Bagi dunia, damai sejahtera selalu bersifat sementara dan kita tidak tahu apa yang bakal terjadi hari esok,” katanya.

Hari-hari raya keagamaan mengandung makna kegembiraan rohani yang besar dan mendalam. Oleh sebab itu wajar bahwa di dalam merayakannya, unsur kegembiraan itu perlu diungkapkan. “Bagaimana cara dan bentuk ungkapan kegembiraan itulah yang agaknya perlu dipertimbangkan dengan baik, sehingga tidak justru bertentangan dengan nilai dan kaidah agama,” imbuhnya.

Menurutnya, demi untuk memurnikan makna sesungguhnya maka semangat persahabatan hendaknya selalu dijadikan landasan dan acuan pemikiran di dalam merayakan hari raya keagamaan. Sebab kalau tidak, pelaksanaannya dapat berubah menjadi semacam ‘pameran kesenjangan’ yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan menambah rasa kepedihan bagi mereka yang tidak mampu berbuat seperti itu.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 139/Desember 2018
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 139/Desember 2018

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh mengungkapkan, tidak dapat disangkal bahwa demi untuk menjalankan hal yang dianggap merupakan ketentuan agama, orang tidak segan mengeluarkan biaya tinggi. Dalam hal ini perhitungan untung-rugi secara rasional ekonomis, tidak bisa dipergunakan dan diperdebatkan. Yang masih dapat diperhatikan dan dipertimbangkan adalah seberapa jauh perbuatan tersebut mencapai dan sesuai dengan makna dari ketentuan agama yang ingin diwujudkan.

“Dalam hal inilah kita perlu bernalar secara kritis. Selain itu, setiap ketentuan harus pula dimengerti dalam kaitannya dengan ketentuan yang lain. Jadi misalnya, ketentuan untuk mengungkapkan kegembiraan dan pengucapan rasa syukur harus mengingat pula ketentuan akan perlunya mewujudkan keadilan, cinta kasih kepada sesama yang menderita, dan sebagainya,” urainya.


Berbagai kritik bermunculan terhadap tradisi keagamaan yang dianggap konsumtif. Bisa dilihat komersialisasi hari raya keagamaan telah dijadikan arena dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan bisnis sebesar-besarnya yang tampaknya memang  sudah begitu “membudaya” di dalam masyarakat.

“Kita ingat hari raya keagamaan telah begitu dikomersialisasikan sampai-sampai berbagai tempat hiburan pun membuat acara khusus dengan klaim menyambut dan merayakan hari peringatan keagamaan itu. Dengan demikian, makna sesungguhnya dari hari raya keagamaan menjadi kabur, kalau tidak dapat kita katakan rusak sama sekali,” tandasnya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan Dosen Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (PPS-UKI) Jakarta ini mengutip ungkapan Roy McCoughry dalam bukunya berjudul “Living in the Presence of the Future” (Intervarsity Press, 2001), ”Demokorasi berkaitan dengan komitmen bukan komitmen terhadap suatu ideologi tapi terhadap sesama yang lain, bukan komitmen atas kebijakan tapi komitmen merawat kehidupan dalam komunitas.”

Yang membangun sebuah negara demokrasi secara hukum adalah UUD ‘45 dan Pancasila. Namun yang membangun demokrasi adalah persahabatan dan relasi dengan tetangga secara nyata, dan nampak di dalam setiap perayaan hari raya keagamaan menjadi kesempatan meningkatkan persahabatan.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan bisa terjadi karena perbedaan ras, suku, etnis, agama, derah, dan berbagai macam hal lainnya. Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam kemajemukan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbeda-beda, namun tidak membeda-bedakan. Semua orang sama-sama dikasihi-Nya,” pungkasnya. (AAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel