Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, MTh: Mari Kita Sambut Tahun 2019 dengan Hikmat Yesus Kristus

JAKARTA, DNT News – Tahun 2018 akan berakhir, tetapi perjalanan hidup kita belum selesai. Pengalaman mengenai waktu adalah pengalaman paradoksal. Orang ingin maju dan dianggap dewasa, karena adanya waktu. Tetapi di pihak lain, orang sadar bahwa ia tidak mungkin hidup terus menerus. Waktu dialami sebagai pembatas hidupnya.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiun HKBP, dalam surat eletroniknya yang diterima dalihannatolunews.com, di Jakarta. “Segi paradoks dari pengalaman mengenai waktu ialah bahwa orang menerima waktu tetapi tidak ingin menjadi tua dan tidak mau meninggal. Ia ingin hidup seribu tahun lagi,” katanya.

Disampaikannya, pengalaman paradoksal terhadap waktu dapat dilihat bahwa orang merasa diri terbatas, tetapi mempunyai harapan begitu banyak. Dari sini dapat dilihat hakikat manusia. Manusia adalah makhluk yang terbatas, tetapi ia mampu melampaui keterbatasannya.

“Pengharapan sejati terdapat pada orang yang sungguh-sungguh menghayati masa lampaunya. Pengalaman bukanlah apa yang dialamai seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Jadi hidup ini adalah pilihan. Dari serangkaian pilihan, kita harus memutuskan,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 140/Januari 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 140/Januari 2019

Menurutnya, keadaan saat ini merupakan hasil keputusan masa lalu. Bahkan bagaimana keadaan masa mendatang bergantung pada keputusan atas pilihan yang dihadapkan pada saat ini. Yesterday ia a history, tomorrow is a mistery, but today is a present. (Kemarin adalah sebuah sejarah, besok adalah sebuah misteri, namun hari ini adalah hadiah).

Perubahan tahun mengakibatkan perubahan baru di pelbagai aspek kehidupan, maka untuk menjalani hidup membutuhkan “hikmat”. Saat pergantian tahun menyadarkan bahwa waktu terus berubah. Keadaan yang telah menjadi pasti di tahun lalu akan segera berakhir, kemudian diganti dengan keadaan yang serba tidak pasti.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh mengutip nats alkitab “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Semua orang ingin mempunyai hikmat di dalam kehidupan. Salomo meminta hikmat ”Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang besar ini?”

“Pertanyaan yang muncul, apakah kita bisa memperoleh hikmat ini? Tentu saja. Dalam Yakobus 1:5 dikatakan, Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah yang memberikan kepada semua orang,” katanya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan Dosen Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (PPS-UKI) Jakarta ini mengungkapkan, hikmat mempunyai banyak arti. Praktis bijaksana berarti arif, bisa membuat pertimbangan yang baik, bisa membuat pilihan atau keputusan yang tepat, tahu diri, tenggang rasa, cermat, hemat, panjang pikiran, bisa mengendalikan diri, tahu berterima kasih, bisa menghargai orang lain, waspada, dan sebagainya.

Tema Natal bersama PGI dan KWI 2018 adalah ”Yesus Kristus Hikmat bagi Kita”. Karena semakin bebas dan derasnya arus informasi membuat manusia sangat membutuhkan hikmat.

“Sekarang kita bisa membaca semua hal yang kita inginkan di dunia maya. Era keterbukaan informasi membuat kita bisa menikmati bukan hanya informasi yang benar tetapi juga -baik disengaja atau tidak- informasi yang tidak benar. Selamat Menyongsong Tahun Baru 2019!” pungkasnya. (FAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel