Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, MTh: Paskah adalah Kebangkitan Setiap Orang Percaya untuk Melakukan Kasih Kepada Semua

JAKARTA, DNT News – Kita ini, kata Paulus adalah ibarat bejana tanah liat, lempung saja. Artinya: pada diri kita ini ringkih, mudah retak, gampang pecah. Bukan berarti bahwa kita tidak berharga. Kita berharga. Dalam kitab Yesaya dikatakan, kita ini berharga di mata Tuhan. Tetapi berharga oleh karena di dalam bejana lempung itu, di dalam diri kita, tersimpan harta karun ilahi yang luar biasa berharga.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiun HKBP, melalui surat elektroniknya ke dalihannatolunews.com. “Keselamatan, kehidupan, dan kebenaran Allah yang abadi. Harta ilahi inilah yang membuat bejana itu, yang sekali pun cuma terbuat dari lempung menjadi berharga,” katanya.

Diingatkannya, pada satu pihak orang Kristen tidak boleh merasa kecil hati, tidak boleh merasa tidak berdaya apa-apa, tidak boleh merasa tidak bisa apa-apa. Jangan!

“Di dalam kita, kalau saja kita sadari, kalau saja kita manfaatkan, ada kekuatan yang melimpah-limpah. Tetapi pada lain pihak, kita tidak boleh menjadi pongah, merasa diri kuat, dan oleh karena itu menjadi lengah. Kita ini bejana tanah liat saja,” ujarnya.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh menyampaikan perbedaan lain yang dibicarakan oleh Paulus adalah kemenangan orang Kristen tidak selalu identik dengan sukses dan gemilang duniawi. Malah sebaliknya. Paulus berkata: ”Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa.”

“Apa artinya? Artinya kita tidak menang oleh karena kita berhasil mengalahkan orang lain, menindas orang lain, menghempaskan orang lain, menjepit orang lain. Namun kita menang ketika berhasil mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kecenderungan naluriah dan alamiah manusiawi kita. Apa itu kecenderungan naluriah manusiawi kita? Yaitu manusia itu gampang lupa daratan ketika menang, namun gampang putus asa ketika kalah,” sebutnya.

Ini yang mesti dikalahkan! Dikalahkan dengan kekuatan dan kuasa Kristus. Jadi hidup ini adalah pemberian dan penugasan. Kehidupan Yesus yang bagaimana yang harus menjadi nyata di dalam tubuh atau hidup kita? Tidak lain adalah hidup bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan malah mematikan diri sendiri menyalibkan dan menyangkal diri.


Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan Dosen Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (PPS-UKI) Jakarta ini mengungkapkan, Paskah menyaksikan hidup adalah pemberian. Tetapi bukan hanya pemberian, melainkan juga penugasan Ia menugaskan kita untuk menghidupi hidup ini. Bukan asal hidup. Malainkan hidup dengan bersemangat dan berbuah. Dalam bahasa Jerman, kata gabe (pemberian) dan Aufgabe (penugasan) mempunyai akar yang sama. Hidup ini sekaligus adalah Gabe und Aufgabe yakni pemberian dan penugasan.

Yesus mengatakan: Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

“Jadi Paskah adalah kebangkitan setiap orang percaya untuk melakukan kasih kepada semua orang. Roh dan semangat Paskah kita ditugaskan untuk hidup yang bermakna dan berguna. Hidup yang tidak kalah oleh tantangan. Menang tanpa ada yang kalah, kecuali ke’aku’an kita, egoism kita, egosentrisme kita! Selamat Paskah!” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel