Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, MTh: Selamat Hari Raya Pentakosta

JAKARTA, DNT News – Pentakosta artinya Lima puluh. 50 berarti 40+10, 40 hari setelah Paskah adalah hari Kenaikan Yesus ke Surga. Dan 10 hari setelah hari Kenaikan itu adalah hari Pentakosta. Artinya, 50 hari setelah Paskah. Itu makna semantiknya. Namun apa makna hari Pentakosta yang sesungguhnya?

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surat elektoniknya kepada dalihannatolunews.com. “Dengan kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelesaikan misi khusus-Nya. Tapi masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan oleh murid-murid-Nya,” katanya.

Oleh sebab itu selama 40 hari Ia mempersiapakan mereka. Tidak langsung kembali ke surga. Dan mereka tak boleh langsung bekerja. Sebab yang perlu bagi mereka bukan saja dibina, tetapi juga membina diri. Sepuluh hari lamanya mereka mempersiapkan diri dalam persekutuan dan dalam doa. Mengendapkan pengalaman masa silam. Membuka diri menyongsong masa depan.

Ditanyakannya, siapakah sesungguhnya Roh Kudus itu? Untuk menjawab ini, dia menjelaskan melalui pertanyaan “Sejak kapan ada Yesus?” Jawab: “Sejak Natal.” “Sejak kapan ada Roh Kudus?” Jawab: “Sejak Pentakosta.”

Selamat Hari Raya Pentakosta

“Kedua jawaban itu salah. Mungkin tampak sepele, tetapi kesalahan itu bisa menjadi penyebab berbagai kerancuan paham tentang Roh Kudus dan penyalahgunaan nama Roh Kudus,” tandasnya.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini menguraikan, memahami Roh Kudus sebenarnya terletak di luar kemampuan kita. Oleh sebab itu, kita diberi pegangan berbentuk kaitan Roh Kudus adalah Roh Yesus. Niceanum merumuskan, ”Aku percaya kepada Roh Kudus… yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Putra.” Implikasinya adalah bahwa anggapan kita tentang Roh Kudus selalu perlu diuji dan diukur dengan diri Yesus yaitu dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan Yesus selagi hidup-Nya di bumi.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 145/Juni 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 145/Juni 2019

Diingatkannya, jika kita merasa dipimpin oleh Roh ketika berdoa semalam suntuk minta keberhasilan dan sukses, ujilah diri dengan bertanya, ”Seandainya Yesus berada di ruangan ini, apakah ia akan berdoa seperti ini, minta sukses ini dan sukes itu?” Jika merasa persidangan gereja yang kita hadiri dipimin oleh Roh, ujilah diri dengan bertanya, ”Seandainya Yesus menghadiri rapat ini, apakah ia akan menganggap keputusan ini berhati nurani adil, dan objektif?”

Jika kita berserah meminta pimpinan Roh sebelum berkhotbah, padahal naskah khotbah belum utuh dan matang, ujilah diri dengan bertanya, ”Apakah penilaian Yesus tentang kinerjaku ini?” Kita bilang penyerahan, tetapi Kristus bilang ini nggak becus ngatur waktu.


“Betapa gampang kita merasa benar dan berada di pihak yang benar karena menganggap diri dipimpin oleh Roh siapa? Jangan-jangan itu bukan Roh Yesus. Jangan-jangan itu Roh yang kita pisahkan dari Yesus. Jangan-jangan itu roh kita sendiri,” sesalnya.

Allah yang tunggal bertindak dengan tiga cara berada sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. “Oleh sebab itu, gereja sepanjang masa bersorak dan bernyanyi. Hormat bagi Allah Bapa; Hormat bagi Anak-Nya; Hormat bagi Roh Penghibur; Ketiganya Yang Esa; Haleluya, haleluya; Ketiganya yang Esa. Selamat Hari Raya Pentakosta!” pungkasnya. (MAR)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel