Pdt. Marihot Siahaan, STh: Reformasi Menjadikan Bona Pasogit Yang Penuh Harapan, Di Manakah Injil Yang Sudah Tiba Lebih Dari 150 Tahun Itu?

JAKARTA, DNT News – Reformasi dibutuhkan untuk menjadikan Bona Pasogit yang penuh harapan. Ini perlu dicamkan dan menjadi refleksi seluruh penghuni dan pencinta Bona Pasogit, Tano Batak, terutama ketika gereja-gereja di seluruh dunia sedang memperingati 500 tahun Reformasi Martin Luther (31 Oktober 1517-31 Oktober 2017), atau Reformasi Gereja pada umumnya.

Hal ini dikatakan Pdt Marihot Siahaan STh, Pendeta Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), kepada dalihannatolunews.com, Sabtu 14 Oktober 2017 malam, di Jakarta. “Para pemimpin Gereja, raja adat, intelektual, profesional, dan tokoh masyarakat lainnya semuanya sudah seharusnya mempergunakan momen pengingatan reformasi ini untuk mereformasi diri serta merta memimpin reformasi di tengah kehidupan masyarakat Bona Pasogit,” katanya.

Disampaikannya, bisa setuju atau tidak, dia melihat bahwa masyarakat Bona Pasogit yang pada umumnya adalah ruas ni huria sedang berada dalam masa transisi dan kegamangan. Mengapa terjadi kegamangan? Dia melihat masih ada paling tidak 3 (tiga) masalah. Pertama, Polarisasi: adanya keterbagian, keterpecahan, dan konflik di tengah masyarakat. Kedua, Diskriminasi: situnjang na gadap sitogu naung jongjong, siida bohi, dan lainnya yang sama dengan itu. Ketiga, Korupsi: suap menyuap.

“Sangat ironis ketika ketiga hal itu terjadi pada masyarakat yang penduduknya notabene Batak Kristen (Kristen Batak) yang merupakan suku yang terkenal dengan Kekristenan dan ikatan kekerabatannya,” tandasnya.

Pertanyaan penting, “Di manakah Injil yang sudah tiba lebih dari 150 tahun itu?” Semua pemimpin yang disebut tadi sangat perlu merenungkan. Sebab sebagai orang Kristen, dia yakin bahwa Injillah seharusnya jawaban dan kekuatan untuk mereformasi dan memperbaiki diri. Dalam perjuangan reformasi, Martin Luther juga mengedepankan kekuatan Injil sebagaimana dia kutip dari kitab Roma 1:16-17.

“Injil keselamatan harus benar-benar didaratkan, hidup, dan dihidupi dalam realitas sehari-hari. Saya yakin kita semua yang cinta Bona Pasogit tidak ingin hidup dalam kegamangan, keterpecahan, serta dipasung budaya korup. Dan itu hanya mungkin kita selesaikan dengan kembali kepada Injil,” serunya.


Injil keselamatan yang berisikan KASIH, KEBENARAN, dan DAMAI SEJAHTERA dapat menghalau dan mengalahkan HOSOM, TEAL, ELAT, LATE. “Sekali lagi sangat ironis di masa kita sudah merayakan 150 tahun hakristenon istilah ’Ndang di ho ndang di ahu, tumagon di begu’ masih familiar, bahkan nabajar dan naposo tahu artinya ‘HOTEL’,” terangnya.

Menurut Pdt Marihot Siahaan STh yang juga Sekretaris Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) ini, tiada jalan lain kecuali semuanya mau mereformasi diri dan bertobat demi masa depan Bona Pasogit yang penuh harapan. Dengan Injil menghalau polarisasi, diskriminasi, dan korupsi. Dengan Injil membangun transparansi, kreasi, inovasi, kebersamaan, dan kesatuan. “Hanya dengan demikianlah, kita dapat berharap Bona Pasogit akan hidup damai, sejahtera, gembira, dan bersemangat,” harapnya.

Pertanyaan terakhir, “Apakah semua pemimpin tadi mau berkomitmen untuk membawa Bona Pasogit menjadi berkat, tanah berlimpah susu, dan madu?”

“Reformasi dan perubahan dibutuhkan. Untuk itu mari kita mereformasi diri dan bertekad untuk membangun Bona Pasogit dengan Injil. Asa marhite i Bona Pasogit tarbarita ala ni Barita Nauli. Horas dan Tuhan memberkati,” tutupnya. (Leonard)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel