Pdt. Midian K.H. Sirait, M.Th: Adat Batak Itu Tidak Statis Namun Dinamis dengan Terus Berkembang Sesuai Perkembangan Zaman

JAKARTA, DNT News – Satu yang selalu melekat pada hati orang Batak, ke manapun dia melangkah selalu membawa adatnya. Terima kasih kepada Tuhan yang sudah menghadirkan orang Batak ke dunia ini. Terima kasih juga kepada para orang tua yang selalu mengajarkan adat atau habatahon kepada keturunannya generasi penerus.

Hal ini dikatakan Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Pdt Midian KH Sirait MTh sebagai Keynote Address pada “Pra Horja Bolon LABB 2019” bertajuk “Girgir Holong Masihaholongan Dohot Harentaon”, Kamis 05 Desember 2019, di Auditorium Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur. “Tuani ma adong adat habatahon i. Gabe taboto jala ta hangoluon ruhut-ruhut ni habatahon i di parngoluanta si ganup ari,” katanya.

Disampaikannya, adat Batak itu harus disederhanakan karena tidak mungkin adat akan batal kalau yang diundang tidak begitu banyak. Esensi adat Batak bukan teletak pada jumlah yang hadir, tetapi bagaimana adat itu bisa berjalan di ruhut-ruhut yang sudah ditentukan. “Asa molo balga, ndang gabe ditengahon. Jala molo tung metmet, ndang gabe sihailahonon manang sipasidingon. Adong do kekuatan di kesederhanaan (the power of simplicity),” ujarnya.

“Jangan takut membuat pembaruan di punguan marga, tapi harus disosialisasikan. Kita harus samakan adat, baik yang besar maupun yang kecil. Sehingga generasi muda tidak takut menikah. Yang penting ruhut-ruhut adat itu dapat dijalankan dengan baik. Karena adat Batak itu tidak statis namun dinamis dengan terus berkembang sesuai perkembangan zaman,” sambungnya.

Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Pdt Midian KH Sirait MTh memukul gong menandai pembukaan “Pra Horja Bolon LABB 2019” bertajuk “Girgir Holong Masihaholongan Dohot Harentaon”
Pdt Midian KH Sirait MTh (ketiga kanan) bersama Budi P Sinambela BBA, Brigjen TNI (Purn) Berlin Hutajulu, Marsda TNI (Purn) JFP Sitompul, Dr Pontas Sinaga MSc, dan Drs Martua Situngkir Ak

Dikatakannya adat Batak tidak eksklusif tetapi inklusif, jadi harus bisa diikuti semua pihak. Tuhan sudah memberkati adat Batak, maka harus menjadi berkat kepada semua orang Batak. “Borhat sian misi ni Kristus i hita mangalangka. Ndada laho membebani umbahen na dipadiri adat Batak i, alai lao mangurupi do. Hinorhon nii, gabe sude halak Batak dohot angka houm (suku), marga (bangso) manghaholongi adat Batak,” ucapnya.

Pdt Midian KH Sirait MTh menyampaikan bahwa gereja menggarami adat Batak, karena kedatangan firman (barita na uli) ke orang Batak bukan untuk meniadakan adat tetapi memperbaharui (pauliulihon). Dia mengutip pernyataan Helmut Richard Niebuhr dalam bukunya “Christ and Culture” terdapat lima posisi gereja dalam adat yakni gereja menentang kebudayaan, gereja dari kebudayaan, gereja di atas kebudayaan, gereja dan kebudayaan dalam paradoks/berlawanan, dan gereja mentransformasi kebudayaan.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 151/Desember 2019
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 151/Desember 2019

“Laos on do na diondolhon Helmut Richard Niebuhr, gereja mentransformasi adat. Nunga taida jala tadai hinauli ni adattai. Ala nii tarjou do sude angka na porsea parsidohot manirai, mentransformasi adattai,” katanya.

Dingingatkannya, agar kepengurusan LABB harus bekerjasama dengan semua punguan marga. Karena LABB bukan milik satu atau sekelompok marga tetapi milik semua marga. Untuk itu kepengurusan harus visioner yang dapat mengajak punguan marga melihat ke depan dan berbuat (marpambahenan) yang baik.


Pada akhir Keynote Address-nya, Pdt Midian KH Sirait MTh menyerukan adat Batak harus Go International, harus ada visi ke depan. Tuhan sudah memberkati orang Batak di bona pasogit dan perantauan. Bukan hanya di Indonesia adat Batak dikenal, tetapi sudah sampai ke tingkat internasional.

“Di orientasi pelayanan HKBP tahun 2020, kita diajak memberitakan firman dan menyanyikan nyanyian Tuhan ke negeri asing. Kita pun terpanggil membawa habatahon untuk dirindukan seluruh bangsa. Sudah banyak orang Batak memperkenalkan dan memberitakan keindahan (hinauli) adat Batak hingga ke luar negeri. Kita pun sudah mempersatukan orang Batak di Eropa. Sudah ada punguan marga di Eropa dan mereka juga beradat,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel