Prof. Dr. H. Bomer Pasaribu. SH, SE, MS: Pancasila sebagai Formal Ideology menjadi Living Ideology yang Hidup secara Permanen, Dinamis, dan Berkelanjutan

JAKARTA, DNT News – Posisi Pancasila pada kehidupan kemasyarakatan dalam negara Republik Indonesia adalah paling sentral, paling inti, akar utama, segala rangkuman nilai-nilai terpokok, dan ideologi falsafah dasar.

Hal ini dikatakan Prof Dr H Bomer Pasaribu SH SE MS, Politisi Akademisi dan Diplomat, pada seminar “Sejarah Kelahiran Kesaktian Pancasila” yang digelar DPP KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak), Rabu 25 Oktober 2017, di Gedung Juang 45, Jln Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat.

“Jadi kalau MPR mengatakan 4 (empat) pilar kebangsaan, saya justru sarankan 5 (lima) pilar. Yakni Pancasila sebagai pilar sentral atau pilar induk, pilar berikutnya Proklamasi, UUD ’45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa Proklamasi, sulit membayangkan bagaimana keberadaan empat pilar tersebut,” kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan ini.

Selain itu tampil sebagai pembicara Dr HP Panggabean SH MS (Mantan Hakim Agung yang juga Ketua Umum DPP KERABAT), Prof Dr H Muhammad Baharun SH MA (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat), dan Dr Ir H Marzuki Usman MA (Mantan Menteri Pariwisata Pos Telekomunikasi dan Menteri Kehutanan Perkebunan). Sementara moderator diperankan Drs Tonny Rons Hasibuan SH MM (Dosen FEB Universitas Trisakti Jakarta).

Dari ki-ka: Dr HP Panggabean SH MS, Prof Dr H Bomer Pasaribu SH SE MS, Drs Tonny Rons Hasibuan SH MM, dan Prof Dr H Muhammad Baharun SH MA
Prof Dr H Bomer Pasaribu SH SE MS (ke-4 kiri) diabadikan dengan Prof Dr H Muhammad Baharun SH MA, Drs Tonny Rons Hasibuan SH MM, dan lainnya

Prof Dr H Bomer Pasaribu SH SE MS yang merupakan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi era Presiden Abdurrahman Wahid ini mengatakan posisi Pancasila akan abadi dalam konstitusi, dan pembukaan UUD ’45 tidak akan dirubah siapa pun. Untuk itu, cara pandang Pancasila harus holistik menyeluruh dan integralistik terpadu dalam lima sila.

“Sehingga Pancasila adalah jalan dan tujuan perjuangan masyarakat yang adil dan makmur. Pancasila adalah pilar induk sebagai falsafah dasar negara yang menjadi sumber dari segala sumber hukum,” ujarnya.

Ditegaskannya, Pancasila sebagai puncak dari segala puncak, inti dari segala inti nilai-nilai yang menjadi konstutional atau formal ideology tidak berubah dan akan abadi. Persoalannya, bagaimana menjabarkan Pancasila sebagai formal ideology menjadi living ideology yakni ideologi yang hidup secara permanen, dinamis, dan berkelanjutan.

“Artinya, Pancasila hidup dan terlaksana dalam semua sistem. Pancasila menjadi ideologi dalam demokrasi, menjadi ideologi dalam politik. Pancasila menjadi ideologi basis pendidikan yang menjadi sistem pendidikan Pancasila,” serunya.

Pada akhir paparannya, mantan Duta Besar untuk Skandinavia meliputi Denmark dan Lithuania ini menegaskan, pokoknya Pancasila bukan hanya di atas kertas tapi living ideology. Hidup dalam ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, dan lainnya. Bukan hanya itu, Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari baik kenegaraan, kemasyarakatan, maupun kekeluargaan.

“Jadi pendidikan karakter itu penting trust based yakni jujur dan terpercaya. Untuk itu, bangunlah sistem dari akarnya bukan dari pohonnya,” pungkasnya. DNC

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel