Dr. Tuntun Sinaga, M.Hum: Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba Pendekatan Sistematis Pro-Lingkungan dan Budaya

LAMPUNG, DNT News – Sepanjang sejarah kehidupan, manusia pada dasarnya telah bergumul dengan berbagai masalah menyangkut perilaku seseorang yang berdampak negatif bagi masyarakat lainnya. Pembabatan hutan semena-mena, pembuangan limbah sembarangan, dan penggunaan energi listrik secara tak terkendali merupakan contoh tindakan yang dapat menguntungkan bagi pelaku tetapi merugikan bagi masyarakat dan lingkungan. Situasi inilah yang masih terjadi dalam kehidupan kita pada abad 21 ini.

Hal ini dikatakan Dr Tuntun Sinaga MHum, Doktor Bidang Kajian Budaya, dalam surelnya ke dalihannatolunews.com, terkait pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba dengan pendekatan sistematis pro-lingkungan dan budaya. “Sebuah dilema sosial yang dihadapi adalah masih berlangsungnya eksploitasi manusia atas lingkungan alam. Tindakan ini dapat menguntungkan bagi pelaku tetapi mengancam sumber daya keragaman hayati (biodiversity) dan kelestarian pemanfaatan sumber daya alam (udara, tanah, air) yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi,” katanya.

Menurutnya, pencemaran tanah dapat mengakibatkan gangguan terhadap kualitas lahan dengan produktifitas menurun, pencemaran air merusak ekosistem dan kesehatan manusia yang memanfaatkan air untuk berbagai kebutuhan, serta pencemaran udara berupa asap pabrik atau kendaraan dapat menyebabkan hujan asam yang menggangu kesehatan manusia.

Dr Tuntun Sinaga MHum yang merupakan Dosen Tetap Universitas Lampung (UNILA) ini mengatakan pembangunan pariwisata yang dipromosikan di Kawasan Danau Toba (KDT) disambut baik dan antusias banyak pihak. Namun tidak sedikit yang khawatir dan gelisah bahwa kondisi lingkungan alamnya dipandang kurang kondusif dan membutuhkan perhatian khusus untuk menopang pengembangan industri pariwisata ramah lingkungan dan budaya yang tidak saja membahayakan masyarakat tinggal di kawasan tetapi juga bagi wisatawan.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 160/Nopember 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 160/Nopember 2020

“Pengembangan pariwisata yang berkelanjutan tentu saja harus didukung oleh perencanaan yang baik dan kultur masyarakatnya yang pro-lingkungan sehingga tidak bumerang bagi masyarakat sekitar dan wisatawan,” ujarnya.

Disampaikannya, pengembangan industri pariwisata di KDT yang diharapkan bertumpu pada masyarakat dan alam kaldera Toba tidak boleh mengabaikan lingkungan masyarakat agar industri itu tidak hanya bertahan (green tourism) tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, kelestarian alam lingkungan, dan budayanya.

“Permasalahan lingkungan Danau Toba yang masih mencuat ini memerlukan sebuah pendekatan ilmiah yang lebih komprehensif dan promosi kearifan (budaya) lokal dalam memahami dan mengendalikan perilaku masyarakat dan berbagai pihak. Sehingga tujuan parwisata lebih dapat dipertanggungjawabkan dari segi lingkungan, budaya, dan ekonomi. Kearifan lokal perlu digali dan dikembangkan sehingga industri pariwisata itu berakar pada kekuatan lokal dan tidak mengasingkan mereka dari lingkungan,” urainya.


Model riset perilaku tidak asing lagi khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Hasil riset inilah yang kemudian diterapkan melalui berbagai bentuk seperti kampanye, iklan, dan gerakan sosial untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan perencanaan dalam kehidupan keluarga. Model riset ini mengandaikan bahwa sebelum seseorang bertindak ramah lingkungan, ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi dan diperhatikan.

Pertama, seseorang harus sadar dan peduli tentang potensi ancaman terhadap lingkungan yang membahayakan kehidupan masyarakat. Kedua, seseorang harus diberi pencerahan agar mampu berpikir, bersikap, dan mengambil tindakan yang tepat dalam menghadapi suatu ancaman lingkungan. Ketiga, seorang perlu memiliki kemampuan untuk menilai kemungkinan respons dan bentuk partisipasi dalam menghadapi suatu persoalan lingkungan.

“Himbauan bahkan sanksi kepada anggota masyarakat yang merusak lingkungan tidak akan efektif jika mereka tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan tidak punya pilihan. Komitmen terhadap lingkungan harus didukung oleh pemahaman dan literasi yang baik tentang berbagai hal yang menguntungkan masyarakat sehingga mereka semakin peduli dan mau bertindak ramah lingkungan,” tandasnya.


Pada akhir surelnya Dr Tuntun Sinaga MHum anggota Dewan Pakar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung ini menyampaikan bahwa untuk menyelamatkan lingkungan, perilaku manusia menjadi kunci utama. Meningkatkan kesadaran dan membangun sikap positif terhadap lingkungan akan mendorong kepedulian dan perilaku pro-lingkungan. Perubahan perilaku akan terjadi jika didukung oleh literasi tentang lingkungan dan budaya.

“Seseorang harus paham apa yang dapat dilakukannya secara konkrit sebelum dia bertindak sesuai tuntutan masalah lingkungan. Singkatnya, sebuah pendekatan sistematis melalui riset dibutuhkan untuk memahami dan memprediksi berbagai kondisi sosial, budaya, persepsi, perilaku masyarakat, dan untuk selanjutnya dijadikan pijakan bagi kebijakan pro-lingkungan dan budaya,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel