Dr. Tuntun Sinaga, M.Hum: Tantangan Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba Membangun Tanpa Mengorbankan Budaya Lokal

LAMPUNG, DNT News – Semangat membahas pengembangan industri pariwisata Kawasan Danau Toba (KDT) di kalangan masyarakat Batak hampir tak pernah surut baik di berbagai media sosial, forum webinar, dan media mainstream. Masyarakat tampaknya selalu optimis bahwa usaha pemerintah untuk mengembangkan pariwisata bertaraf internasional di KDT seolah tidak ada jalan mundur kendati iklim pariwisata sangat terpukul akibat pandemi Covid-19.

Hal ini dikatakan Dr Tuntun Sinaga MHum, Doktor Bidang Kajian Budaya, dalam surelnya ke dalihannatolunews.com, terkait tantangan pengembangan pariwisata Kawasan Danau Toba membangun tanpa mengorbankan budaya lokal. “Intinya harapan masyarakat KDT adalah apa yang sudah dicanangkan pemerintah harus dilanjutkan dengan optimisme bahwa pada saatnya pariwisata pasti bangkit kembali sekalipun pada masa adaptasi tatanan hidup baru,” katanya.

Dia menyampaikan hal ini dalam semangat untuk memberikan gambaran tentang pengembangan industri pariwisata dengan berbagai tantangannya mulai dari level perencanaan, pelaksanaan, hingga upaya pelestarian budaya dan lingkungan ekologis. KDT sebagai salah satu destinasi wisata telah diposisikan sebagai daerah destinasi wisata kelas dunia yang lebih mengandalkan kekayaan alam lingkungan sebagai Kaldera Toba serta didukung keunikan budaya beragam.

“Pengakuan dunia yang diperoleh tahun 2020 melalui UNESCO yang menempatkan Danau Toba sebagai salah satu warisan dunia telah memberikan nilai tambah tersendiri bagi KDT tidak saja sebagai daerah destinasi wisata yang sangat memesona tetapi juga menjadi warisan dunia yang perlu dipelihara dan dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 161/Desember 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 161/Desember 2020

Menurutnya, modal andalan dalam pariwisata adalah posisinya dari segi sejarah, budaya masyarakat yang unik, dan genetika alam yang memukau. Masyarakat yang tinggal di kawasan danau ini membentuk 7 kabupaten dengan tradisi budaya yang beragam, tak kalah unik dibanding daerah destinasi wisata lainnya di tanah air dan bahkan di dunia.

Dr Tuntun Sinaga MHum, Dosen Tetap Universitas Lampung (UNILA), mengatakan bahwa jika modal utama pariwisata adalah alam dan budaya maka pengalaman menunjukkan ketika industri pariwisata berkembang pesat yang kemudian terancam justru kelestarian alam dan budaya itu sendiri. Usaha untuk mempertahankan modal budaya dan alam serta pada saat yang sama membuka diri terhadap dunia luar melalui pariwisata disebut oleh Schulte Nordholt (2007) sebagai kebijakan benteng terbuka.

“Kebijakan benteng terbuka inilah yang menuntut perhatian serius dan tanggungungjawab kultural dari berbagai pihak sehingga tujuan pengembangan pariwisata tidak kontraproduktif dengan tujuan ekonomis dan budaya. Standar kemajuan destinasi wisata menuntut kriteria modernitas yang justru berpotensi mengorbankan kekayaan alam dan budaya demi melayani hasrat materil dan gaya hidup hedonisme dengan mengembangkan berbagai sumber usaha yang dapat menggerus nilai-nilai budaya dan identitas lokal,” urainya.


Hal-hal mendasar lainnya tentang industri pariwisata modern seperti amenitas, aksesibilitas, dan atraksi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai tradisi lokal. Dalam hal ini usaha pengembangan harus melibatkan budayawan dan berbagai pakar keilmuan dalam proses merancang, merumuskan, dan mengawal tujuan pariwisata yang ramah budaya dan lingkungan.

“Dalam perspektif kontemporer, industri pariwisata tidak lagi semata diarahkan untuk meningkatkan devisa negara dan ekonomi masyarakat tetapi juga membuka peluang untuk misalnya promosi nilai-nilai budaya lokal, pengalaman budaya, kerangka pelestarian budaya dan ekologis yang sekaligus dijadikan daya tarik bagi wisatawan,” tandasnya.

Selain itu industri pariwisata juga diarahkan untuk membuka ruang isolasi masyarakat marginal terhadap berbagai akses pusat-pusat ekonomi. Seperti kegiatan wisata yang dapat meningkatkan sumber pendapatan dan manfaat kultural dalam arti pemahaman dan pengalaman antarbudaya dalam meningkatkan semangat multikultural sebagai ciri kehidupan masyarakat global.


“Dengan demikian, pengembangan industri parwisata membutuhkan komitmen awal dari seluruh stakeholder, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, masyarakat, dan elemen masyarakat strategis lainnya untuk tidak terjebak pada hegemoni kapitalis global maupun lokal yang berpotensi menggerus budaya dan ekologi masyarakat lokal,” imbuhnya.

Pada akhir surelnya Dr Tuntun Sinaga MHum yang merupakan pemerhati budaya ini menyarankan agar masyarakat diberdayakan untuk memiliki kekuasaan implisit terhadap sumber daya alam dan budaya sendiri, selain penguasaan dasar tentang sifat dan minat wisatawan dari berbagai latar belakang. Masyarakat harus paham tentang nilai-nilai budaya lokal yang harus dipelihara dan nilai-nilai yang bisa dikompromikan dengan keinginan wisatawan atau standard budaya pariwisata dunia.

“Permasalahan dan tantangan sosial budaya dalam memajukan kawasan destinasi wisata, antara lain mengidentifikasi dan mengatasi perilaku masyarakat yang kontraproduktif dengan nilai-nilai budaya pariwisata dan memahami nilai-nilai budaya lokal yang harus dipegang teguh hingga yang boleh dikompromikan dengan ‘selera’ wisatawan dengan memetik pengalaman positif dari destinasi wisata kelas internasional lainnya, seperti Thailand dan Bali dalam mengembangkan pariwisata tanpa kehilangan identitasnya,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel