Drs. Maruap Siahaan, MBA: Membangun Pariwisata Kawasan Danau Toba Menjadi Kota Berkat di Atas Bukit

JAKARTA, DNT News – Keinginan yang sudah lama dari seluruh masyarakat baik yang lahir, dibesarkan, berdomisili di Kawasan Danau Toba maupun yang merantau ke luar kawasan untuk merasakan suasana yang lebih indah dan menyenangkan berada di Kawasan Danau Toba (KDT).

Hal ini dikatakan Drs Maruap Siahaan MBA dalam Webinar Pollung Masyarakat Hukum Adat Batak menyambut 75 Tahun Kemerdekaan RI bertajuk “Pembangunan Pariwisata Danau Toba, Untuk Siapa?” yang digelar Lokus Adat Budaya Batak (LABB), Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), dan Batak Center (BC), Kamis 27 Agustus 2020 mulai pukul 14.00-17.00 WIB, di Jakarta.

“Perbaikan tata ruang KDT melalui PERPRES No. 81 Tahun 2014 seharusnya direvisi. Pembentukan Otorita Pengelolaan Pariwisata Kawasan Danau Toba atau BODT gagal membangun pariwisata yang berkelanjutan. Pembangunan itu harus berkeadilan. Kebijakan demi kebijakan harus konsisten. Pembangunan berkeadilan harus memiliki keberpihakan terhadap yang lemah,” katanya.

Ketua Umum YPDT ini menyampaikan untuk membangun pariwisata KDT menjadi Kota Berkat di Atas Bukit. “Ini menjadi Visi YPDT, artinya mempersiapkan manusia yang memiliki karakter. Namun sayangnya, karakter orang Batak saat ini telah mengalami pergeseran dari yang tadinya spiritual ke arah yang sekuler, hedonisme, dan materialisme,” ujarnya.


Sementara Misi YPDT adalah berperan aktif sebagai mitra strategis Pemerintah dan stakeholders lainnya, memastikan terlaksananya implementasi rancangan pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba sebagai kawasan adat dan budaya Batak, serta berkontribusi lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Dalam pembangunan pariwisata di KDT, YPDT fokus memperjuangkan tiga hal yakni air Danau Toba, tanah, dan hutan. YPDT mengajak Bangso Batak bersatu memperjuangkan ketiga hal tersebut,” ucapnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020

Dia pun mengungkapkan beberapa hal yang telah dilakukan. Pertama, kerusakan air Danau Toba sudah diperjuangkan YPDT melalui jalur hukum sejak 2017 hingga 2018. Kedua, Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) secara berturut-turut sudah dilaksanakan pada 2015 hingga 2018. Ketiga, YPDT sudah membuat tiga laporan prosiding dan masuk jurnal online Academia yang banyak dirujuk para akademisi.

Terkait mengenai tanah, Drs Maruap Siahaan MBA mengingatkan bahwa Tano Batak adalah anugerah Tuhan dan sebagai identitas Bangso Batak. Tanah Adat adalah bentuk kedaulatan komunitas ataupun masyarakat adat yang mendiaminya yang harus dijaga dan dipelihara oleh masyarakat.


“Untuk itu kami dari YPDT menghimbau agar jangan menjual tanah di KDT kepada pihak lain. Pemanfaatan tanah di KDT seharusnya diatur dalam kerangka kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokal,” tandasnya.

Dalam webinar yang disiarkan secara Live Streaming YouTube itu juga ditampilkan pembicara Brigjen TNI (Purn) Berlin Hutajulu (Ketua Umum Dewan Mangaraja LABB), Ir SM Tampubolon (Ketua Umum BATAK CENTER), Dr Pontas Sinaga MSc (LIPI), dan Dr Ronsen Pasaribu SH MM (Ketua Umum FBBI). Welcome Speech disampaikan Drs Jerry R Sirait (Sekjen BATAK CENTER), moderator diperankan Ir Santiamer Haloho (Sekjen DPP LABB), Host oleh Aron Jon Naibaho HP, serta Notulis dilakoni Boy Siahaan dan Hojot Marluga. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel