Duta Besar Mangasi Sihombing: Quo Vadis Suara Orang Kristiani Dalam Pemilu Legislatif 2024?

JAKARTA, DNT News – Saat ini ada 3 Parpol kristiani yang tengah berbenah untuk bertarung dalam Pileg 2024. Partai Indonesia Damai (PID) dipimpin mantan ketua fraksi PDS di DPR-RI, Apri Hananto Sukandar. Partai Demokrasi Rakyat Indonesia Sejahtera (PDRIS) dipimpin pengacara Kamaruddin Simanjuntak. Partai Kristen Indonesia 1945 (Parkindo 45) dipimpin Max Nikijuluw.

Hal ini dikatakan Duta Besar Mangasi Sihombing dalam Webminar Nasional yang digelar Chris Pol dan Visi Indonesia Unggul bertajuk “Quo Vadis Suara Kristen di Pusaran Dunia Politik”, Sabtu 26 September 2020. “Dilihat dari pengorganisasian partai, nampak saat ini PID sudah lebih maju dimana kepengurusan di daerah sudah terbentuk 28 DPW dari 34 propinsi. Beberapa di antara DPW itu sudah resmi dilantik,” katanya.

Dikatakannya, dalam sejarahnya partai kristiani memiliki prospek yang baik dan bahkan mencengangkan. Tercatat Partai Katolik tahun 1950-1956 menempatkan 9 orang wakil di DPR, tahun 1956-1959 menempatkan 6 orang, dan tahun 1971-1977 sebanyak 3 orang. Sejalan dengan itu pada periode yang sama PARKINDO memiliki 5, 8, 7 orang di DPR. Untuk tahun-tahun itu, total wakil Parpol kristiani di DPR mencapai 14, 14, 10 orang.

“Pada masa Orde Baru Parpol kristiani mendapat tekanan berat bahkan dipaksa oleh pemerintah Suharto untuk berfusi dengan PNI, Murba, IPKI menjadi PDI. Sejak fusi itu maka lambang-lambang kekristenan lenyap dari kancah perpolitikan Indonesia oleh kuasa kediktaturan,” ujarnya.


Namun setelah reformasi 1998, muncullah kepermukaan Partai Damai Sejahtera (PDS) sebagai pembawa suara dan lambang kekristenan yang melalui Pileg 2004 menempatkan 13 anggota di DPR dari 550 orang. PDS berhasil juga masuk ke Pileg berikutnya, namun karena sedikit “salah urus”, raihan suara menurun ke 1,48 persen dari sebelumnya 2,14 persen.

Duta Besar Mangasi Sihombing yang merupakan mantan diplomat karir ini menyampaikan, muncul pertanyaan bagaimana proyeksi untuk Pileg 2024? “Mari lihat ke DPR sekarang ini. Di sana bertengger 82 orang kristiani tersebar ke dalam berbagai Parpol non-kristiani seperti PDI-Perjuangan, Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Gerindra. Keempat Parpol ini telah mendulang suara kristiani yang jumlahnya signifikan dan pantas diperhitungkan dalam perpolitikan nasional,” urainya.

Total suara raihan PSI dan Perindo dalam Pileg 2019 lalu lebih dari 4 persen, cukup untuk membentuk satu fraksi di DPR. Walaupun PSI dan Perindo tidak berazaskan kekristenan, diperkirakan pemilih kedua parpol ini kebanyakan adalah warga kristiani. “Jadi kalau digabung 82 orang kristiani di DPR sekarang dengan pemilih kristiani dari Perindo dan PSI, sudah merupakan kekuatan yang sangat signifikan. Katakanlah 90-95 orang. Maka untuk Pileg 2024, jumlah inilah yang akan diperebutkan baik oleh Parpol lama maupun Parpol baru,” serunya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 159/Oktober 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 159/Oktober 2020

Menurut Pembina Visi Indonesia Unggul ini, pertanyaan tentu masih muncul menyangkut PSI, Perindo, dan 3 Parpol kristiani yang baru dibentuk. Apakah akan bisa lolos verifikasi untuk ikut Pileg 2024? “Untuk saat ini kita tidak bisa berspekulasi mana dari 5 Parpol ini akan lolos verifikasi. Terlepas dari hal-hal tersebut di atas, sikap gereja nampak semakin positif terhadap politik, dalam pengertian bahwa gereja semakin menyadari perlu dan pentingnya warga gereja ikut dalam kegiatan politik praktis,” tandasnya.

Dia juga menyampaikan perbincangan Webminar, Pdt Dr Robinson Butarbutar merupakan calon Ephorus HKBP belum lama ini yang dengan tandas mengatakan perlunya gereja-gereja bersinergi dan mendorong warganya terjun ke dunia politik, bahkan ikut mempersiapkan atau membekalinya. Seperti diketahui bahwa HKBP adalah salah satu denominasi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia dengan anggota jutaan orang.

Diakuinya, terdapat tendensi peningkatan perhatian gereja ke dunia politik, seperti terlihat dari partisipasi para pendeta dalam Parpol. Seperti di PID dimana beberapa pendeta menjadi pengurus dan penasehat seperti Pdt Dr Gilbert Lumoindong. Sebagai kilas balik, pada Pileg 2019 yang lalu terjadi black campaign atau setengah black campaign dengan kata-kata “Jangan pilih parpol baru, tak akan lewat batas ambang, nanti sia-sia suaranya”. Ini biasanya dari Parpol yang sudah ada di DPR.


Pada akhir paparannya, Duta Besar Mangasi Sihombing yang juga merupakan pengarang buku-buku syair ini mengatakan bahwa yang diperlukan dalam demokrasi adalah kejujuran yang merupakan salah satu tonggak etika perpolitikan umat kristiani. Umat kristiani harus menolak dan mencegah politik uang. Umat kristiani sesuai dengan ajaran Alkitabiah harus menolak dan ikut membasmi kejahatan sosial seperti korupsi, diskriminasi, intoleransi, persekusi, praktek LGBT, prostitusi, narkoba, perdagangan atau penyelundupan manusia, perlindungan alam, lingkungan, dan lainnya.

“Semestinya inilah yang menjadi bahan kampanye politisi dalam meraih suara umat kristiani. Jadi harus tetap berpijak dalam batas-batas etika kristiani. Kita yakin bahwa pemilih kristiani adalah pemilih yang cerdas. Gereja-gereja Tuhan bisa mendorong warga untuk berpolitik praktis dalam koridor etika kristiani. Semoga lambang kekristenan berkibar kembali di parlemen,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel