Ir. Sintong M. Tampubolon: Sumbangan Pemikiran Menjelang Sinode Godang HKBP Ke-65

JAKARTA, DNT News – Berangkat dari Struktur Organisasi pada Aturan Peraturan Huria Kristen Batak Protestan (AP HKBP) Tahun 2002, pelaksanaan kepemimpinan HKBP sekarang ini sepertinya tidak ada yang salah. Semuanya sudah benar. Dari bagan organisasinya dapat juga disimpulkan bahwa Ephorus memang berkuasa mutlak seorang diri di bawah Sinode Godang.

Hal ini dikatakan Pemerhati dan salah seorang ruas HKBP Ir Sintong M Tampubolon ketika berbincang melalui saluran telepon seluler dengan dalihannatolunews.com, Kamis 29 Oktober 2020 pagi, di Jakarta terkait sumbangan pemikiran menjelang Sinode Godang HKBP ke-65.

Dikatakannya, kalau model managemen seperti itu tidak diperlukan memilih Sekjen dan Ketua-Ketua Departemem oleh peserta Sinode Godang. Toh mereka tidak memiliki otoritas sendiri ataupun kolektif. Semuanya tetap diputuskan Ephorus seorang diri. “Seharusnya dalam kondisi seperti itu Ephorus dapat langsung menunjuk atau mengangkat Sekjen dan Ketua-Ketua Departemem maupun Praeses. Mengenai MPS peranannya sampai dimana? Dalam bagan organisasi, MPS di bawah Ephorus,” katanya.

Menurutnya, hal yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Ephorus dipanggil Ompui? Padahal sebenarnya kata ini tidak ditemukan pada AP HKBP 2002. Sebab itu ruas (jemaat) menjadi mempersepsikan Ephorus seorang yang sakral dan seorang Imam yang memiliki nilai lebih dari manusia biasa. “Paling tidak seorang Ephorus memiliki nilai sakralitas lebih. Mungkin disamakan dengan Dr IL Nommensen, di atas pendeta pada umumnya. Dengan julukan Ompui orang beranggapan bahwa Ephorus tidak boleh salah dan pantang diperguncingkan,” ujarnya.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 160/Nopember 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 160/Nopember 2020

Menyimak BAB IV Pasal 11 AP HKBP 2002 dapat disimpulkan bahwa Ephorus hanya seorang penggembala biasa yang serupa dengan pendeta lainnya dan pemimpin organisasi HKBP yang serupa dengan ketua organisasi pada umumnya. Tidak memiliki nilai lebih apapun, padahal nilai lebih ini menjadi harapan. “Ini sangat berbeda dengan Dr IL Nommensen ketika menjadi Ephorus yang diberi gelar Ompui tahun 1882 dan Rasul Batak tahun 1911,” ucapnya.

Ir Sintong M Tampubolon yang merupakan mantan anggota DPR-RI Partai Golkar selama empat periode ini memberikan saran. Pertama, dalam tugas wewenang Ephorus No 1(a) kata-kata untuk mendoakan dihapus saja dan langsung menggembalakan. “Itu bukan tugas Ephorus saja, karena ruas pun bisa saling mendoakan. Masa kata mendoakan harus dituliskan ekplisit pada AP HKBP,” tandasnya.

Kedua, panggilan Ompui untuk Ephorus mungkin lebih baik tidak ada untuk menghindari salah persepsi ruas. Sebab seperti diketahui dalam adat budaya Batak, Ompui merupakan gelar penghargaan tertinggi dari para tokoh Batak kepada seseorang yang memiliki nilai lebih. Hanya Ephorus yang terpilih dan dianggap pilihan Tuhan yang pantas dipanggil Ompui.


Untuk itu diperlukan tata cara pemilihan Ephorus yang mendekati harapan ruas. Mungkin salah satu usul agar pemilihan Ephorus dengan manjomput na sinurat dapat dipertimbangkan. Kalau ini disetujui, pemilihan Ephorus diharapkan terhindar dari istilah kubu-kubuan apalagi dengan tim sukses dan uang.

“Kalau ini disepakati maka untuk urusan personalia (pendeta) dan organisasi dapat dilaksanakan oleh Sekjen dan Ketua-Ketua Departemen. Di sini Ephorus fokus mengurusi partondion dan berbicara hal yang universal untuk mengayomi ruas, kemanusian, perdamaian, dan kesejahtaraan,” katanya.

Ketiga, alangkah indahnya kalau penempatan Pendeta dan penunjukan Pendeta Ressort dengan merit system sesuai dengan prestasinya di partondion dan pengorganisasian. “Maaf, kalau perlu seperti penempatan militer. Tidak salah mengadopsi itu kalau dianggap baik,” ujarnya.


Keempat, janganlah menempatkan Pendeta atau Pendeta Ressort atas dasar like and dislike, faktor pertemanan, dan lainnya. Kelima, tahun 2000 Forum Peduli Bona Pasogit (FPBP) telah menyampaikan sumbangan pemikiran yang lengkap komprehensif untuk masukan pada Perubahan AP HKBP 2002, namun katanya waktu itu tidak sempat lagi dibahas. “Menurut pendapat kami, hal itu masih relevan sampai sekarang,” imbuhnya.

Keenam, Visi HKBP dirubah menjadi Iman, Moral, dan Cerdas untuk hubungan kita dengan Tuhan, kemanusian, dan ruas HKBP yang cerdas/pintar untuk menyesuaikan dengan perubahan teknologi.

Pada akhir perbincangan, Ir Sintong M Tampubolon yang juga merupakan Ketua Umum FPBP ini mengatakan semua yang disarankan ini demi kemajuan HKBP kedepan. Dia pun memohon maaf kalau pada saran yang disampaikan ada yang berlebihan. “Kita berpositif thinking bahwa HKBP mampu membawa kedamaian dan kesejahteraan untuk ruas, Batak, dan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel