Mr. Spirit Saut Sitompul, MSi, CEM, Ethos Master dan Motivator Nasional: Menempatkan Nilai Motivasi Dengan Tepat Merupakan Tindakan Bijak Dalam Suatu Komunitas

JAKARTA, DNT News – Siapa kita? Profesional 3M: Mau (Karakter Mulia); Mampu (Kompetensi Unggul); Mau (Kontribusi Sempurna). Sesungguhnya dalam setiap melakukan perbuatan “tidak ada yang bebas nilai”.

Kutipan ini disampaikan Mr Spirit Saut Sitompul MSi CEM, Ethos Master dan Motivator Nasional, terkait “Menempatkan nilai motivasi dengan tepat merupakan tindakan bijak dalam suatu komunitas”. “Tidak ada orang yang bebas nilai artinya setiap orang berbuat sesuatu yang baik, pasti ada nilai yang mendorongnya dan akan menerima dampak positif,” katanya.

Menurutnya, ada dua orientasi atau motivasi seseorang rela bergabung dalam sebuah komunitas yakni fokus menerima atau mengambil untuk kepentingan pribadi, dan fokus memberi yang terbaik untuk komunitas.

“Tentu semua orang bebas memilih nilai orientasi mana yang utama baginya. Perlu kita sadari adalah dampak dari orientasi terhadap komunitas hendaklah memperkuat dan membangun,” ujarnya.

Mr Spirit Saut Sitompul MSi CEM yang merupakan Ketua Dewan Pendiri “International Motivator Association Indonesia” (IMAS) ini mengingatkan, perilaku yang melemahkan komunitas adalah jika anggota komunitas itu prinsipnya mengambil kesempatan untuk memperoleh nilai.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU Edisi 133/Jui 2018
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU Edisi 133/Juni 2018

Pertama, memperoleh nilai material artinya anggota komunitas mencari segala macam cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi berupa uang dan fasilitas yang bernilai uang.

Kedua, mengambil nilai psikologikal artinya anggota komunitas bukan uang yang paling utama pada dirinya, tetapi posisi, jabatan, ingin dihargai, ingin dipuji, aktualisasi diri subjektif, dan keinginan yang bersifat nilai status sosial lainnya.

“Apa pun komunitas yang digeluti, mari kita kuasai diri agar tidak terjebak dengan orientasi material dan psikologikal. Sebab selain memperlemah komunitas juga nilai uang dan jabatan (kehormatan diri subjektif) sumber konflik semu dan terbuka,” tandasnya.

Hampir semua aktivitas di komunitas membutuhkan uang, namun uang dan kehormatan bukanlah tujuan tetapi akibat positif dari perilaku. Oleh karenanya jika ingin komunitas kokoh, bertumbuh, berkembang, dan dampaknya positif dirasakan stakeholder internal dan masyarakat, maka landasan nilai bergabung di komunitas adalah “Memberi, Memberi dan Memberi”.

“Tidak ada alasan anggota komunitas untuk tidak memberi. Memberi tidak selalu berupa uang atau benda. Memberi bisa dengan doa, ide positif, memberi support semangat dengan kata-kata positif, memberi waktu dan tenaga, memberi uang dengan tulus dan sukacita,” ujarnya.

“Selain itu komunitas yang bertahan ribuan tahun adalah komunitas yang anggotanya konsisten mewujudkan Misi dan Nilai Suci,” sambungnya.


Mr Spirit Saut Sitompul MSi CEM, Pendiri dan Ketua “Arete Event Organizer” ini mengajak untuk membuat “MEMBERI DENGAN SUKACITA SEBAGAI PANGGILAN SUCI”. Sebab orang yang “memberi dengan sukacita” akan membuat tubuh ringan dalam melakukan aktivitas.

“Utamanya percayalah Tuhan Yang Maha Esa juga menyukai orang yang memberi dengan sukacita. Selamat menyambut bulan Juni 2018 ini dan beraktivitas dengan cara sehat yakni penuh SOS (Semangat, Optimis, Sukacita). Salam Etos: Bigger, Higher, Better. Lebih Besar, Lebih Tinggi, dan Lebih Baik,” pungkasnya. (HT)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel