Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Bagaimana Merayakan Minggu-Minggu Advent?

JAKARTA, DNT News – Advent artinya kedatangan, yaitu kedatangan Kristus. Minggu-minggu Advent adalah empat hari Minggu sebelum tanggal 25 Desember. Minggu-minggu Advent artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Suasana atau sikap hati yang bagaimana yang harus ada, agar minggu-minggu Advent itu benar-benar punya makna?

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pensiunan Pendeta HKBP, dalam surelnya ke dalihannatolunews.com, di Jakarta terkait bagaimana merayakan Minggu-Minggu Advent? “Minggu Advent I adalah permulaan tahun gerejawi. Mulai dirayakan gereja sekitar abad ke-6. Liturgi masa advent ditandai dengan lagu-lagu penantian kedatangan Kristus, penyalaan lilin, altar dan dekorasi gereja warna ungu, satu lilin pada Minggu Advent I, dua lilin pada Minggu berikutnya, dan seterusnya,” katanya.

Disampaikannya, seseorang hanya dapat memahami dan menghayati makna Advent jika menyadari nasib buruk yang membelit dan kesuraman masa depan yang  dihadapi. Penting menyadari bahwa hal yang menyakitkan itu adalah akibat ulah sendiri.

“Bukan hanya ada teriak kepedihan dan kesakitan, tetapi juga ratap penyesalan. Inilah suasana hati yang dapat kita rasakan ketika Israel berteriak kepada Tuhan. Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin,” ujarnya.

Cover Depan DALIHAN NA TOLU
Edisi 173/Desember 2021
Cover Belakang DALIHAN NA TOLU
Edisi 173/Desember 2021

Menyadari, mengakui, dan meratapi dosa serta kejahatan. Betapa ngeri dan celakanya manusi bila murka Allah itu sungguh menimpanya. Oleh karena itu, bukan saja mengaduh dan meratap, tetapi juga berharap kepada Allah, sungguh merasa tergantung kepada Allah. Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengatakan bahwa ada penyerahan diri yang sungguh dan penuh kepada Allah. “Apakah Anda merasakan hal itu? Kemungkinan besar tidak. Hampir semua orang mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, ada cacatnya, ada kurangnya, ada salahnya, dan ada dosanya. Anda juga begitu kan? Iya! Tetapi apa Anda menyesalinya? Benar-benar menyesalinya? Atau, dengan enteng mengatakan, Ya maklum aja deh. Namanya saja manusia?” urainya.


”Ini kecenderungan orang. Selalu menganggap enteng dosanya sendiri. Kalau dosa atau kesalahan orang lain? Wow, kita teropong pakai kaca pembesar. Tetapi dosa dan kesalahan sendiri, kita teropong pakai kaca pengecil. Amat sulit memaafkan orang lain, tetapi begitu gampang memaaafkan diri sendiri. Selama sikap mental kita seperti ini, ya tidak mungkin kita bertobat,” sambungnya.

Pada akhir surelnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengingatkan kalau tidak merasa perlu bertobat, memperbaiki dan memperbaharui diri, maka tidak akan merasakan perlunya Juruselamat.


“Apa perlunya Juruselamat, kalau kita merasakan safe dan baik-baik saja? Kalau tidak merasa memerlukan Juruselamat, kita juga tidak merasa perlu menanti, berharap, dan merindukan kedatangan Sang Juruselamat, bukan? Advent jadi tidak punya arti,” tandasnya.

Untuk itu Pendeta menyarankan bahwa kalau mau menghayati makna Advent, maka ikutilah resep Augustinus yang mengatakan, seseorang harus menyadari bahwa dirinya seolah-olah seperti orang yang sedang tenggelam. Sebab itu akan meronta-ronta, tangan menggapai-gapai, dan berusaha mengangkat kepala dari dalam air. Untuk apa? Untuk mencari udara. Untuk bisa bernafas. Sebab itulah satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup. “Kata Augustinus, semestinya orang Kristen itu mencari Tuhan seperti orang tenggelam mencari udara. Hidup kita senantiasa merupakan Advent,” pungkasnya. (AAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel