Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, M.Th: Belajar Muncul dari Menderita

JAKARTA, DNT News – Sepanjang jalan hidup kita berjuang. Berjuang bukan sekedar berusaha, melainkan sekuat tenaga dan sepenuh hati. Berjuang adalah berupaya melalui kesukaran dan risiko. Kita semua adalah pejuang. Berjuang untuk sehat-sembuh, berjuang untuk mengembangkan diri, berjuang untuk sesuap nasi, berjuang untuk utuh sebagai suami-istri, berjuang untuk iman, dan lainnya.

Hal ini dikatakan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surelnya ke dalihannatolunews.com, di Jakarta. “Kita berjuang melalui duka derita. Kepejuangan kita justru teruji saat duka derita melanda, saat rintangan menghambat, dan saat putus asa membayang,” katanya.

Disampaikannya, penderitaan di dalam hidup memang tidak ada habisnya karena terus datang silih berganti. Di mana-mana ada penderitaan. “Kita sedang berjuang melawan epidemi virus Corona 19, datang lagi bencana alam di NTT. banjir di Banjarmasin, gempa di Malang. bahkan baru kita kehilangan putra-putra terbaik 53 orang dengan tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di Laut Bali,” ujarnya.

“Penderitaan juga ada singgah di tiap rumah. Kanker, stroke, lupus, lumpuh, dan rupa-rupa penyakit. Di beberapa keluarga terjadi kematian karena Covid-19 membuat luka-luka kesedihan. Belum lagi PHK dan kebangkrutan. Kecelakaan lalu lintas. Pertengkaran dan perceraian,” sambungnya.

Cover Depan DALIHAN NA TOLU
Edisi 166/Mei 2021
Cover Belakang DALIHAN NA TOLU
Edisi 166/Mei 2021

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini mengatakan untuk tidak tergesa-gesa menjawab bahwa penderitaan itu karena dosa. Yesus pernah menghardik rasul-Nya yang berpandangan gegabah seperti itu. Sabda-Nya, ”…bukan karena dosanya sendiri atau dosa orang tuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam Dia.”

Dia mengungkapkan bahwa menyikapi penderitaan memang membingungkan. Di satu pihak, ada orang yang melarikan diri atau memberontak menentang penderitaan. Mereka naik pitam dan meronta-ronta melawan penderitaan yang dianggap sebagai musuh besar atau sebagai kutuk. Sebaliknya, ada orang yang malah mencari penderitaan dengan berperilaku masokhistis yaitu mendapat kesenangan dari penderitaan. Mereka sengaja melakukan kesalahan dalam tugas supaya dimarahi. Memang tidak banyak, namun ada orang yang berkecenderungan begitu.


Selanjutnya, ada pula orang yang langsung menyerah pada penderitaan. Belum apa-apa sudah putus asa. Belum bertempur sudah merasa kalah. Setiap kali dilanda bencana, dan musibah, reaksinya adalah ”Ketimbang menderita begini, lebih baik aku mati”.

“Reaksi terhadap penderitaan memang berbeda-beda. Ada yang melarikan diri. Ada yang memberontak. Ada pula yang cenderungan merasa diri pahlawan, merasa puas dan bangga bahwa ia menderita. Ada yang menyerah kalah,” ungkapnya.


Pada akhir surelnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengingatkan bahwa bertekun atau bertabah di tengah duka derita bukanlah prestasi. Tidak ada seorang pun patut membanggakan diri sebagai yang lebih tekun kepada Tuhan. Tekun atau tabah adalah karunia pemberian Kristus. Hupomene en lesou, ketekunan di dalam Yesus.

“Banyak hal dalam kehidupan yang tidak kita mengerti. Tetapi kita percaya Tuhan Allah peduli kepada kita, bahkan Tuhan menolong kita. Menguatkan kita di dalam penderitaan yang kita hadapi. ‘Credo ut intelligan’ Aku percaya supaya mengerti. Selamat Belajar dari penderitaan!” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel