Pdt. Dr. Luhut P. Hutajulu, MTh: Tuhan Memberkati Kita Pada Waktu Tidur

JAKARTA, DNT News – Salah satu jalan meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi epidemi Covid-19 ialah istirahat yang cukup, tidur nyenyak, makan seimbang, dan olahraga teratur. Berarti harus tidur yang cukup dan teratur. Apa saudara semalam tidur nyenyak? Berapa jam saudara tidur satu hari?

Hal ini disampaikan Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh, Pendeta Pensiunan HKBP, dalam surelnya ke dalihannatolunews.com terkait Tuhan memberkati kita pada waktu tidur. “Anak kecil tidur 10 jam sehari, bahkan lebih. Orang dewasa tidur lebih singkat sekitar 8 jam sehari. Dari 24 jam sehari, 8 jam dipakai untuk tidur. Itu berarti sepertiga dari hidup ini kita pakai untuk tidur. Kalau kita sekarang berumur 60 tahun, itu berarti kita sudah tidur selama 20 tahun. Bayangkan, tidur selama 20 tahun. Lama betul. Tua di ranjang,” katanya.

Dikatakannya, semua orang sama yaitu ada tidurnya hanya yang berbeda adalah kebiasaan posisi tidur. Konon ada 4 (empat) macam posisi tidur, dan tiap posisi menggambarkan sifat orang yang bersangkutan.

Pertama, tidur terlentang adalah konon orang berangan-angan muluk, suka melamun, optimis, sok gengsi, tetapi gampang frustrasi. Kedua, tidur tengkurap adalah orang bersifat lemah lembut, luwes, rajin tetapi picik, dan suka menang sendiri. Ketiga, tidur miring apalagi sambil memeluk guling adalah orang berbakat tetapi gila hormat dan mudah stress. Keempat, tidur melingkar atau mengkerut seperti udang adalah konon orang menunjukkan sifat mencari kehangatan dan perlindungan seolah-olah ingin masuk kembali ke dalam rahim ibu.

Cover Depan Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020
Cover Belakang Majalah DALIHAN NA TOLU
Edisi 158/September 2020

Tidur tampak seperti sia-sia dan membuang waktu. Namun, pemazmur sangat menghargai tidur. Mazmur 127:1-2 menulis, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah  payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”.

Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang merupakan dosen program Pascasarjana (S2) UKI Jakarta ini mengingatkan agar memperhatikan ungkapan ‘membangun rumah’, ‘mengawal kota’, ‘bangun pagi-pagi’, ‘duduk-duduk sampai jauh malam’, dan ‘makan roti yang diperoleh dengan susah payah’. “Segala upaya itu sangat baik. Ada yang menggambarkan dengan hitungan matematika. Jika kita kerja tanpa Tuhan adalah 0 dari hari Senin sampai Sabtu. Berarti ada 6 (enam) 0 (nol) nya dan tanpa nilai. Namun jika dimulai dengan angka 1 di depan, apa yang terjadi? Menjadi 1000000 (satu juta). Luar biasa kan! Jadi tanpa Tuhan usaha kita sia-sia dan bersama Tuhan kita menerima berkat-Nya,” ujarnya.

“Lalu bagaimana cara Tuhan memberikan berkat? Mazmur ini berkata, ‘Ia memberikannya… pada waktu tidur.’ Berkat apa yang diberikan Tuhan pada waktu kita tidur? Di sini persoalannya. Kita tidak menyangka bahwa justru pada waktu tidur Tuhan memberkati kita. Berkat itu berupa pemulihan fungsi-fungsi tubuh,” sambungnya.


Jadi pada waktu tidur, Tuhan memberi berkat yang sangat diperlukan yaitu pemulihan dan penyegaran tubuh. Bahwa seseorang bisa mengantuk dan tidur dengan nyenyak itu adalah berkat yang patut disyukuri. “Untuk masyarakat agraris, Mazmur ini juga menunjukkan bahwa berkat Tuhan datang bukan hanya ketika orang bercocok tanam, melainkan juga pada waktu tidur. Sebab pada waktu tidur Tuhan terus menumbuhkan tanaman,” ucapnya.

Pada akhir surelnya, Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh yang juga penulis rubrik rohani di Majalah DALIHAN NA TOLU ini mengatakan bahwa Mazmur ini juga hendak berkata kepada semua orang tentang sikap dalam mempertahankan hidup dan mencari rezeki. Perasaan yang paling dominan adalah perasaan takut. Takut kalau-kalau target tidak tercapai, takut tidak cukup, takut gagal, takut tidak selesai, takut kehabisan, takut tidak jadi, takut kalah, serta takut ini dan itu.

“Akibat dari rasa takut sangat banyak, orang menjadi gelisah, kuatir, panik, tegang, serakah, serobot sana sini, tergesa-gesa, gampang marah, stress, dan susah tidur atas insomnia. Perasaan takut memang ada kaitannya dengan tidur. Orang tidak bisa tidur kalau takut. Walaupun sangat mengantuk, anak kecil tidak akan tertidur kalau ia sedang ketakutan mendengar bunyi burung hantu,” pungkasnya. (YAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel