Prof. Dr. Marina Silalahi, S.Pd., M.Si: Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Ilmu Etnobotani dengan Orasi Ilmiah Tentang Integrasi Kearifan Lokal dan Iptek Khususnya Etnomedisin

JAKARTA, DNT News – Kearifan lokal merupakan gagasan, nilai, pandangan setempat yang bersifat bijaksana, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Iptek adalah sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan ataupun wawasan seseorang di bidang teknologi. Etnomedisin berasal dari kata ethno yakni etnis atau suku bangsa dan medicine yaitu obat. Oleh karena itu etnomedisin diartikan sebagai kajian pengobatan dan pemeliharaan kesehatan etnis menurut perspektif mereka.

Hal ini disampaikan Ketua Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP-UKI) Jakarta Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi dalam orasi ilmiahnya berjudul “Integrasi Kearifan Lokal dan Iptek Khususnya Etnomedisin untuk Pembangunan Berkelanjutan” ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Etnobotani, Kamis 28 Januari 2021, di Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. Acara pengukuhan Guru Besar tersebut dipimpin Rektor UKI Jakarta Dr Dhaniswara K Harjono SH MH MBA.

“Judul orasi ilmiah ini bisa diartikan satu kesatuan yang utuh antara kearifan lokal dengan iptek khususnya pengobatan dan pemeliharaan kesehatan menurut perspektif etnis sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang dan masa yang akan datang,” katanya.

Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi mengatakan salah satu senyawa tanaman sambiloto ternyata dapat menyelamatkan manusia dari pandemi Covid-19. Penelitian lanjutan terkait kandungan senyawa bioaktif tanaman ini dapat dilakukan untuk mendapatkan standarisasi di seluruh produk sambiloto. “Tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu senyawa yang dihasilkan sambiloto dapat menyelamatkan manusia dari pandemi Covid-19,” ujarnya.

Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi menyampaikan orasi ilmiah “Integrasi Kearifan Lokal dan Iptek Khususnya Etnomedisin untuk Pembangunan Berkelanjutan”
Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Etnobotani dipimpin Rektor UKI Jakarta Dr Dhaniswara K Harjono SH MH MBA
Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi dibadikan bersama suami Penasehat Majalah DALIHAN NA TOLU Mantun S Pakpahan SE MM

Peraih Juara ke-3 Dosen Berprestasi di Tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III tahun 2019 ini menjelaskan bahwa studi etnomedisin merupakan salah satu bidang kajian etnobotani untuk mengungkapkan pengetahuan atau kearifan lokal berbagai etnis dalam upaya menjaga dan memelihara kesehatannya. “Penelitian etnomedisin saat ini banyak ditujukan untuk menemukan senyawa kimia baru sebagai bahan baku dalam pembuatan obat industri farmasi terutama penyakit berbahaya, seperti obat kanker dan tidak menutup kemungkinan untuk mengatasi Covid-19,” terangnya.

Diungkapkannya, di akhir tahun 2020 hingga awal Januari 2021 sambiloto menjadi tanaman yang diyakini negara Thailand untuk mengobati atau paling tidak mengurangi dampak negatif Covid-19. “Setelah saya telusuri, ternyata pemanfaatannya untuk mengatasi Covid-19 diadaptasi dari kearifan lokal etnis di Thailand. Sambiloto merupakan jenis tanaman yang terdaftar sebagai obat esensial nasional di Thailand terutama untuk mengatasi gejala flu atau influensa. Dalam buku Materi Medika III, sambiloto resmi tanaman obat Indonesia, herba sambiloto digunakan sebagai diuretika dan antipiretika,” urainya.

Cover Depan DALIHAN NA TOLU
Edisi 163/Februari 2021
Cover Belakang DALIHAN NA TOLU
Edisi 163/Februari 2021

Selama menjadi akademisi, Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi yang merupakan istri dari Penasehat Majalah DALIHAN NA TOLU Mantun S Pakpahan SE MM berhasil mempublikasi beberapa penelitiannya di Jurnal Internasional Bereputasi dan Jurnal Nasional Terakreditasi. ”Sebagai akademisi, kami melakukan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masayarakat serta tugas penunjang lainnya sebagai dosen. Salah satu karya ilmiah saya ialah tentang kearifan lokal dan keanakeragaman hayati Indonesia khususnya Etnis Batak yang memiliki nilai ilmiah yang sangat baik dan penting dilestarikan,“ ungkapnya.

Dia juga ingin mengembangkan produk lokal etnis Batak menjadi produk komersial. Salah satunya ialah produk hasil penelitian dalam bidang kesehatan seperti sauna tradisional atau disebut oukup dan kuning untuk masker tubuh. Untuk itu dia menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal dan iptek khususnya etnomedisin untuk pembangunan berkelanjutan, baik untuk pengambil kebijakan dan peneliti. Penelitian yang terintegrasi dari berbagai keahlian ilmu dibutuhkan untuk mengembangkan etnomedisin.


Pada akhir orasinya, Prof Dr Marina Silalahi SPd MSi menyarankan agar “gudang pengetahuan” yang tersimpan dalam manuskrip kuno yang dimiliki Indonesia maupun yang diwariskan secara lisan dalam masyarakat lokal, sebaiknya dapat diterjemahkan menjadi naskah ilmiah oleh para peneliti.

“Untuk menunjang tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainabale Development Goals), saya menyarankan untuk merancang program pembangunan desa berbasis etnomedisin. Program ini hendaknya melibatkan masyarakat lokal, BUMDES, UMKM, universitas, lembaga penelitian, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan para pemegang kepentingan lainnya,” pungkasnya. (AAN)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel