Referensi Akademik Mencegah Sengketa Antara Pengurus Yayasan

Sengketa Antara Pengurus Yayasan

JAKARTA, DNT News – Salah satu karakteristik Badan Hukum Yayasan adalah bahwa tujuan Yayasan sebagai suatu “harta yang ditersendirikan” (afscheld vermogen) menjadi sarana sosial bagi saluran amal para penyumbang dana untuk mencapai tujuan sebagaimana dibuat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Untuk mencegah kemungkinan terjadinya sengketa di lingkungan Yayasan, Dr HP Panggabean SH MS (Mantan Hakim Agung RI) menulis buku “Penegakan Hukum Menangani Aset Yayasan”.

Penerbitan buku ini diharapkan dapat diterima sebagai referensi akademik mencegah sengketa antara Pengurus Yayasan di lingkungan perguruan tinggi dan lembaga keagamaan. Yayasan sebagai foundation/stichting adalah harta yang ditersendirikan dimana meskipun ada pengurus tetapi tidak ada pemiliknya (afscheld vermogen, met bestuur, maar zonder eigenar).

Secara umum terjadinya konflik pada Yayasan disebabkan. Pertama, Faktor Internal menyangkut administrasi pengelolaan, dan ketentuan AD/ART. Kedua, Faktor Eksternal menyangkut pemahaman terhadap isi dan sitematik berbagai UU, lingkungan hidup sekitarnya tidak empati, dan pertumbuhan gereja bersifat liberal.

Buku ini mengharapkan kiranya Badan Usaha Yayasan di bidang Perguruan Tinggi, Rumah Sakit, Koperasi, dan kegiatan bersifat business like untuk mengubah landasan organisasinya menjadi “Perhimpunan” (vereiniging) sebagaimana diatur dalam pasal 1653 KUHPerdata jo Stb 1939-570.

Sengketa Antara Pengurus Yayasan

Jika sengketa Yayasan sering ditimbulkan masalah mekanisme suksesi pimpinan, maka dalam Badan Hukum Perhimpunan para pendiri lebih mudah menyusun mekanisme suksesi melalui rapat pendiri. Sementara di lingkungan Yayasan, jika Pembina sudah meninggal dunia sering terjadi tarik ulur kepentingan yang hanya dilandasi sejarah pengabdian di lingkungan Yayasan tersebut.

Buku ini juga menampilkan visi misi JALA DAMAI dengan maksud adanya upaya memotivasi tokoh masyarakat dan para aktivis keagamaan menangani konflik aset keagamaan melalui proses mediasi. Sejak tahun 2002, lembaga ini telah secara rutin melaksanakan “Pelatihan Mediator” selama 5 (lima) hari di Bogor.

Buku ini layak dimiliki para organ Yayasan, pemerhati hukum, dosen, dan mahasiswa agar memahami karakteristik hukum Yayasan dari berbagai aspek yang menjadi sumber sengketa aset Yayasan. (Hutanta)

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments (0)

Disqus Comments (0)

Specify a Disqus shortname at Social Comments options page in admin panel